Ady Setiawan Ikut Usung Keranda Ibunda Dahlan Abubakar

Ady Setiawan bersama IPDA Syamsurijal, mantan Kapolsek Hu'u Kabupaten Dompu usai permakaman Ibunda Hj.Hafsah H.Abidin 23 Juni 2026.
Ady Setiawan bersama IPDA Syamsurijal, mantan Kapolsek Hu'u Kabupaten Dompu usai permakaman Ibunda Hj.Hafsah H.Abidin 23 Juni 2026.

Bima, NusantaraInsight — Ada pemandangan yang mungkin kurang jadi perhatian orang saat proses permakaman Hj.Hasah binti Hj.Abidin, Ibunda Tokoh Pers Sulawesi Selatan Dr.H.M.Dahlan Abubakar, M.Hum, Selasa (23/6/2026) siang. Saat keranda jenazah keluar dari Masjid At Taqwa Desa Kanca, seorang pria berambut lurus bertubuh 172 cm tampak menggaet bagian pikulan keranda bersama warga lainnya.

Lelaki itu adalah Ady Setiawan, gelandang klub Liga 1 Dewa United yang sedang berlibur selama peralihan musim kompetisi tahun 2026/2027. Ady Setiawan –putra pasangan Abdurrahman (alm.)– Muktaman — ini memang kelahiran Desa Paradorato — tetangga Desa Kanca kelahiran M.Dahlan Abubakar.

Ady Setiawan setiap kehadiran wartawan senior yang 2 Juni 2026 terpilih sebagai Ketua Dewan Kehormatan PWI Sulawesi Selatan itu di desa kelahirannya dan dia ada di Bima, tidak pernah absen menyambangi jurnalis kelahiran Bima 12 Januari 1952 tersebut. Pertemuan keduanya hanya terjadi saat seperti ketika sama-sama pulang kampung. Misalnya pada lebaran dan musim kompetisi.

Ady memikul keranda tersebut sejauh sekitar 700m menuruni jalan desa berbatu yang basah oleh hujan pada malam hari sebelumnya. Rombongan pengantar jenazah ini kemudian harus berjalan mendaki dengan kondisi jalan yang becek dan licin. Banyak pengantar yang terpaksa berjalan dengan kaki telanjang untuk menghindari terpeleset di jalan menuju areal permakaman yang basah dan bertanah liat. Bahkan, pengusung keranda sempat ‘oleng’ di jalan licin saat pendakian.

BACA JUGA:  “Termehek-Mehek”

Kendaraan kecil sulit menaklukkan jalan ini ketika basah. Nanti pada saat jalan sudah kering, kendaraan kecil sudah bisa melewatinya. Namun truk-truk yang sering membuat jagung, gabah, dan kayu olahan tetap dapat melintasi pendakian sejauh sekitar 100m.

Selama di Bima mengisi masa libur kompetisi, Ady Setiawan kerap menghadiri undangan bermain di beberapa desa dan kecamatan di Kabupaten Bima. Dia memiliki klub yakni Parado FC yang selalu dibelanya ketika diundang bermain ‘antarkampung’ (tarkam). Masyarakat Bima yang mengetahui kehadiran Ady dalam setiap pertandingan tarkam selalu membludak menyaksikan pertandingan.

Pada tanggal 14 Juni 2026 Ady Setiawan dan Rangga Muslim Perkasa –dua pemain Dewa United — mengikuti pertandingan Piala Wali Kota Bima di Lapangan Brimob Kota Bima. Ady dan Rangga memperkuat klub Unbim Persiden asuhan Rangga berhadapan dengan tim asal Kecamatan Sape. Dalam pertandingan ini, Ady menyarangkan dua gol ke jala lawan saat timnya menang 3-1.

“Setiap saya berlari ke pinggir lapangan, penonton menyawer saya dengan uang,” cerita Ady Setiawan ketika hadir pada malam Ibunda Hj.Hafsah berpulang di Desa Kanca.

BACA JUGA:  Perlindungan Hukum Terhadap Wartawan

Menjelang masa tuanya, di desa kelahirannya, Ady membangun lapangan sepak bola mini standar FIFA yang diresmikan pada saat Ramadan tahun 2025. Ibunda Ady, Muktaman, menendang bola menandai peresmian lapangan karpet bernilai total sekitar Rp 700 juta tersebut. Turut menyaksikan acara peresmian ini Askab PSSI Kabupaten Bima, Kapolsek Parado Ipda Jakub, tokoh masyarakat Parado di Mataram H.Sofwan, S.H.,M.Hum, Babinsa, dan sejumlah tokoh masyarakat dan juga Rangga Muslim Perkasa, teman Ady.

Lapangan sepak bola mini ini sudah sering digunakan untuk pertandingan sejenis yang dilaksanakan AS DUA TIGA ARENA, nama fasilitas lapangan sepak bola mini itu. Pada setiap sore anak-anak remaja bermain hingga larut malam secara bergantian. Mereka tentu membayar biasa pemeliharaan yang terjangkau yang biasa para pemain saling patungan.

“Fasilitas ini saya harapkan bisa mengalihkan perhatian para remaja ke hal-hal positif dan melahirkan persepak bola berkualitas dari Parado,” kata Ady ketika ditanyakan tujuan pembangunan lapangan sepak bola mini itu suatu ketika.