Antara Ibu dan Profesi

Ibu
Penulis (Paling Kanan) di hadapan makam ibunda - (foto: Ady Setiawan)

Bima, NusantaraInsight — Sejak saya tiba kembali di Bima 18 Juni 2026 malam, kondisi kesehatan Ibu tidak juga mengalami perbaikan. Di tangannya masih terpasang infus, bantuan darurat yang juga bakal diberikan jika pun Ibu akan dilarikan ke rumah sakit. Enam orang anak Ibu sudah hadir.

Seorang adik saya, Nurhayati, bersama Hj Hana Abubakar (istri saya) dijadwalkan mendarat di Bandara Sultan Muhammad Salahuddin Bima, Sabtu (20/6/2025) sore.
Adik saya yang tinggal di Mataram, H.Sofwan, sepakat dengan adik-adik agar menerbangkan saya, istri, dan adik Nurhayati menuju Bima segera. Saya membaca situasi ini, Ibu sudah menghadapi persiapan untuk pergi.

Saat saya tiba, komunikasi dengan Ibu praktis terputus sama sekali. Satu-satunya respons Ibu yang tersisa adalah saat memegang tangan kirinya yang selalu dia gerakkan. Ibu kerap ikut memegang tangan Ayah dan juga anak-anaknya jika merasakan ada tangan lain.

Adik-adik dan anggota keluarga membaca Alquran tanpa henti. Saya yang duduk menghadap laptop di meja dan membelakangi Ibu yang terbaring di sebelah kiri, juga tidak bisa menghentikan jemari mengetik berita perkembangan hasil pertandingan Piala Dunia 2026. Saya merasakan inilah dilema. Antara cinta pada Ibu dan pada profesi. Bagaimana kedua-duanya berjalan seiring. Saya harus memberi perhatian dan memantau perkembangan kesehatan Ibu dan di sisi lain melayani hak ingin tahu (“right to know”) publik akan informasi hajat olahraga yang sedang memusatkan perhatian manusia satu planet ini.

Sejak 20 Juni 2026 itu, kami — anak-anak Ibu yang sudah lengkap hadir 7 orang — bergantian begadang. Adik-adik terus membaca ayat kitab suci sembari memantau perkembangan kondisi Ibu. Dari kursi plastik warna biru di dekat meja tempat mengetik, saya sekali-sekali menengok ke samping kiri melihat kondisi orang yang kami cintai itu. Kami ingin memastikan bahwa Ibu pergi dengan menghadirkan, suami, adiknya, dan anak-anaknya serta keluarga sebagai saksi.

BACA JUGA:  “Termehek-Mehek”

Minggu (21/6/205) saya tidur siang. Menjelang sore, seorang ponakan membangunkan saya dalam lelapnya tidur di kamar satu jejeran empat kamar rumah panggung orang tua.

“Umi agak kritis,” bisiknya pelan yang segera diikuti saya bangkit berdiri dan menuju ke samping utara Ibu yang dalam kondisi mata tertutup.

Istri saya sudah dari tadi memantau kondisi kesehatan Ibu. Sampai malam itu, kondisinya tidak berubah. Mata Ibu tetap tertutup. Dadanya naik turun saat bernapas. Ibu tampak bernapas melalui mulut yang juga diikuti air warna putih meleleh di pojok kiri kedua bibirnya. Istri saya dan anggota keluarga menadah lelehan itu dengan tisu hingga meludeskan satu dos kecil.

Senin (22/6/2026) kondisi kesehatan Ibu tidak sedang baik-baik saja. Masih seperti hari-hari sebelumnya. Cairan infus masih bergantung. Dua adik saya ke Kota Bima — 55 km dari Desa Kanca — karena ada keperluan yang mendesak.

Pada pukul 16.00 Wita, kondisi Ibu sepertinya mulai menurun. Dadanya yang naik turun saat bernapas mulai tampak melemah. Kedua adik yang sedang dalam perjalanan ke Kota Bima dikontak. Adik Muslim yang masih di kota Bima segera diberi tahu agar kembali ke Desa Kanca. Kepada keduanya diminta tidak singgah-singgah di tempat lain.

BACA JUGA:  AAA Arina Saraswati, Perempuan Ayu yang Mau Urus Sampah

Sekitar pukul 17.30 adik saya yang perempuan tiba. Dia langsung menangis sejadi-jadinya. Mungkin melihat perkembangan kesehatan Ibu yang turun drastis.

Adik yang inilah yang banyak membersamai Ibu dari waktu ke waktu selama mulai kurang selera makan hingga tidak sebiji pun nasi ke dalam mulutnya.

Ibu tetap bertahan dengan kondisi kesehatan yang kian kritis. Istri saya yang pensiunan perawat RSUP Dr.Wahidin Sudirohusodo tetap memantau nadi di tangan kanan Ibu. Ibu belum juga lepas. Saya menduga, Ibu mungkin masih menunggu adik Ahmad Muslim tiba di sampingnya.

Pada pukul 18.30, adik Ahmad Muslim tiba dari Bima. Dia langsung duduk berlutut di sebelah kiri Ibu. Kami segera menuntaskan salat magrib di rumah, tidak ke masjid yang hanya 100m. Kami khawatir Ibu pergi tanpa mereka.

Dari waktu ke waktu menuju pukul 18.45, mata kami fokus habis pada sosok Ibu yang terus bertarung memperpanjang usia hayatnya. Semua mata terpusat pada wajah Ibu yang mulai pucat. Kami satu demi satu mencium kening dan pipi Ibu pada kondisi-kondisi kritis ini. Ayah yang juga sudah mulai susah bangun jika sudah duduk, hanya beringsut sedikit di sebelah kiri kepala istrinya. Ayah pun berkali-kali mendekatkan wajahnya ke dekat muka ‘mantan pacarnya’ yang sudah membersaamainya selama 74 tahun dan memberikan 10 anak. Tiga di antaranya sudah berpulang.

Beberapa detik menjelang pukul 18.45 Wita, istri saya tampak menjemput kedua tangan Ibu dan meletakkan dalam lipatan akhir di atas dada. Komunikasi nonverbal istri itu, saya maknai Ibu sudah pergi, meskipun adik-adik masih berusaha mengecek detak-detak kecil di dekat lehernya. Sudah hilang. Ibu resmi pergi…

BACA JUGA:  Kembali Jadi Kota Dunia & Dg.Mangalle

Kepergian Ibu kebetulan bersamaan dengan geliat pertandingan sepak bola Piala Dunia. Meskipun adik-adik tetap membaca Alquran pascakepergian Ibu, saya tidak bisa melepaskan diri tetap duduk di belakang laptop. Ini pilihan yang sulit. Antara kecintaan pada Ibu dan profesi.

Selasa (23/6/2026) pagi hingga sore, laptop saya praktis tidak “on”. Saya hanya mengikuti perkembangan pertandingan Piala Dunia melalui gawai yang harus dipasoki vocer senilai Rp 5 ribu tiap 24 jam. Kadang-kadang adik-adik memberi tahu skor pertandingan setelah menengok gawai mereka masing-masing.

Selasa malam, di rumah ada doa yang ditutup dengan santap malam bersama. Partisipannya belasan jemaah Masjid At Taqwa yang menuntaskan salat Isya. Saya pun berhenti lagi “menggauli” laptop.
Subuh Rabu, seusai salat subuh, saya membuka laptop lagi, Menulis berita hasil pertandingan tersisa Rabu dinihari yang belum ditulis. Portugal membantai Uzbekistan 5-0 dan Inggris dan Ghana yang bermain imbang kacamata.

Di tengah menulis berita saya membatin sendiri.

“Tahun ini saya sudah sukses menjalani dan mengatasi dua misi yang sama-sama beratnya. Tetap memberi dan mewujudkan rasa cinta pada Ibu dan juga tetap menjaga profesi.

Wassalam. (Kanca 24 Juni 2026).