Oleh: Bima Cakrawala M. (Mahasiswa Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Unhas)
Makassar, NusantaraInsight — Saya Bima Cakrawala M, salah satu relawan dalam kegiatan PARKIR Makassar. Kunjungan pertama saya ke Pulau Barrang Lompo membuka mata tentang realitas kehidupan di pulau kecil ini.
PARKIR merupakan akronim dari Pojok Belajar Rakyat Kota untuk Inisiatif Inklusif dan Rendah Emisi. Kegiatan ini merupakan program WRI (World Resources Institute) Indonesia atas dukungan UKPACT.
Perjalanan dimulai dari Dermaga Kayu Bangkoa dengan kapal penumpang besar yang nyaman. Saya memilih duduk dekat jendela, di mana angin laut sejuk menyapa wajah.
Suasana kapal ramai tapi menyenangkan, dipenuhi obrolan ringan teman-teman, deru mesin, dan panorama laut biru yang tak bertepi. Saya bahkan tertidur, lalu terbangun saat mendengar sorak-sorai.
Di tengah perjalanan, kapal kami berpapasan dengan kapal lain. Kru kami melempar paket barang dari dek dan ditangkap mulus oleh penumpang seberang. Adegan seperti film petualangan itu terasa begitu autentik, unik, dan menjadi pengalaman yang baru bagi saya.
Perjalanan menuju pulau itu tidak hanya menjadi perpindahan tempat, tetapi juga membuka kesadaran bahwa kehidupan di wilayah kepulauan memiliki ritme yang berbeda dari daratan kota.
Laut bukan hanya batas geografis, melainkan ruang penghubung yang menentukan bagaimana orang bergerak, berinteraksi, dan memenuhi kebutuhan hidupnya.
*Roda-Roda yang Mengubah Irama Pulau*
Tiba di Barrang Lompo, pemandangan dermaga langsung menyambut dengan hiruk-pikuk. Gerobak kayu sederhana menjadi andalan utama warga untuk mengangkut barang dari kapal ke rumah-rumah sempit.
Saat kami berkeliling pulau dengan berjalan kaki, sepeda motor listrik muncul sebagai raja jalanan. Kendaraan ini mendominasi, dipakai semua kalangan: orang dewasa berbelanja, remaja nongkrong, hingga anak SD yang mengendarainya dengan percaya diri.
Saya sempat berhenti, mengamati dengan takjub sekaligus prihatin. Sebagian warga masih setia dengan sepeda pedal biasa, tetapi motor listrik jelas mengubah ritme pulau. Namun, kekhawatiran muncul saat melihat anak-anak kecil, kakinya bahkan tak menggapai tanah.
βIni bahaya,β gumam saya dalam hati, terutama dengan kondisi jalan yang belum rata.
Mobilitas di pulau ini bukan hanya soal ada kendaraan atau tidak, tetapi soal bagaimana kendaraan itu digunakan dan seberapa aman lingkungan mendukungnya.
Perubahan ini memperlihatkan bahwa teknologi mobilitas memang memberi kemudahan, tetapi tidak selalu diiringi dengan kesiapan infrastruktur.













