Odong-odong bisa menjadi transportasi aman bagi anak sekolah, mengurangi penggunaan motor listrik oleh anak-anak, sekaligus membantu warga menuju puskesmas atau fasilitas umum lainnya.
Seorang warga bahkan berkata, “Kalau tidak ada motor dan puskesmas jauh mau tidak mau kami jalan kaki.” Kalimat itu membuat saya sadar bahwa kendaraan sederhana pun bisa menjadi solusi penting bagi mobilitas masyarakat pulau.
Dalam ruang yang terbatas dan jalan yang belum ideal, transportasi kecil seperti odong-odong bisa punya makna yang jauh lebih besar dari sekadar hiburan.
Untuk keluar pulau ke Makassar, kapal penyeberangan masih terbatas: hanya dua kali bolak-balik hingga pukul 15.00, karena ombak besar setelah itu berisiko tinggi.
Keterbatasan ini menunjukkan bahwa mobilitas warga sangat bergantung pada cuaca dan waktu. Warga tidak hanya berhadapan dengan jarak, tetapi juga dengan ketidakpastian alam. Keterbatasan mobilitas ini terasa semakin penting karena fasilitas pendidikan dan kesehatan di pulau juga masih terbatas.
Kabar gembira datang dari Ibu Kurniati, yang berbagi informasi bahwa pemerintah berencana menghadirkan pete-pete laut.
“Ini solusi bagus untuk mobilitas antarpulau,” pikirku.
Apalagi jika moda ini nantinya gratis, maka keberadaannya bukan hanya memudahkan perjalanan warga ke Makassar, tetapi juga dapat membantu anak-anak sekolah yang membutuhkan akses lebih mudah dan terjangkau.
Saya berharap realisasinya cepat, agar warga tak terisolasi. Kehadiran moda ini, jika benar-benar diwujudkan, bisa menjadi langkah penting untuk memperkuat hubungan Barrang Lompo dengan Makassar dan wilayah sekitarnya, sekaligus membuka akses yang lebih baik bagi pendidikan, kesehatan, dan aktivitas harian masyarakat.
*Jejak Pembangunan dan Ruang yang Mulai Bergerak*
Selama perjalanan, saya menemukan hal yang sangat menarik secara akademik. Ternyata program KOTAKU dari PU ada di pulau ini. Saya tidak menyangka program ini sampai ke pulau-pulau.
Bagi saya, temuan ini penting, karena sebelum berangkat mengikuti kegiatan PARKIR Makassar, saya memang ditugaskan untuk mensurvei program-program pemerintah tentang permukiman kumuh untuk melihat apakah program ini terealisasi dengan baik dan bagaimana dampaknya bagi masyarakat setelah ada program tersebut.
Karena itu, keberadaan KOTAKU di Barrang Lompo terasa sangat relevan dengan latar belakang saya sebagai mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota.
Program KOTAKU yang saya temui berkaitan dengan arsinum atau air siap minum. Saya memang tidak sempat menanyakan langsung kepada warga mengenai realisasi program tersebut karena keterbatasan waktu.













