News  

Menapaki Pulau, Membaca Mobilitas dan Perubahan Ruang

Dari kejauhan, ambulans laut terparkir, tapi jaraknya terlalu jauh untuk diamati. Semua itu menunjukkan bahwa fasilitas dasar memang ada, tetapi belum sepenuhnya hadir sebagai layanan yang siap dan layak digunakan kapan saja.

Kami juga melakukan pengukuran kemiringan jalan di fasilitas umum seperti masjid, sekolah, dan puskesmas. Hasilnya sangat kurang. Akses masih jauh dari ramah disabilitas, dengan tanjakan curam dan permukaan yang tidak rata.

Ini krusial karena mayoritas warga adalah nelayan pencari teripang, dan dari pengamatan serta wawancara, banyak di antara mereka mengalami kelumpuhan akibat pekerjaan fisik berat di laut.

Fasilitas rehabilitasi yang tersedia pun sangat minim, hanya berupa parallel bars dari kayu kasar yang mereka rakit sendiri untuk latihan berjalan. Pemandangan itu membuat saya membayangkan betapa sulitnya menjalani aktivitas sehari-hari di pulau dengan keterbatasan fasilitas kesehatan dan aksesibilitas yang belum memadai.

Dalam konteks ini, mobilitas bukan hanya soal alat transportasi, tetapi juga soal kemampuan tubuh untuk bergerak dengan aman di ruang yang tersedia.

BACA JUGA:  Pengurus IKA BPRMI Sulsel akan Dilantik, Sejumlah Agenda Menanti

Di sisi lain, ada odong-odong, transportasi umum lokal yang dapat memuat sekitar 6–8 orang. Saat ini kendaraan tersebut lebih sering digunakan sebagai hiburan rakyat dan bahkan katanya dipakai untuk menidurkan anak-anak.

Kami sempat menaikinya. Musiknya nyaring dan bangkunya bergoyang saat melewati jalan yang tidak rata.

Meski terlihat sederhana, menurut saya odong-odong memiliki potensi besar jika dikembangkan dengan lebih serius. Bayangkan jika kendaraan ini didesain lebih inklusif dan menggunakan energi ramah lingkungan seperti listrik atau solar.

Odong-odong bisa menjadi transportasi aman bagi anak sekolah, mengurangi penggunaan motor listrik oleh anak-anak, sekaligus membantu warga menuju puskesmas atau fasilitas umum lainnya.

Seorang warga bahkan berkata, “Kalau tidak ada motor dan puskesmas jauh mau tidak mau kami jalan kaki.” Kalimat itu membuat saya sadar bahwa kendaraan sederhana pun bisa menjadi solusi penting bagi mobilitas masyarakat pulau.

Dalam ruang yang terbatas dan jalan yang belum ideal, transportasi kecil seperti odong-odong bisa punya makna yang jauh lebih besar dari sekadar hiburan.

BACA JUGA:  Prodi Pariwisata Unhas dan PUM Netherlands Bersinergi Bahas Potensi Kampung Wisata

Untuk keluar pulau ke Makassar, kapal penyeberangan masih terbatas: hanya dua kali bolak-balik hingga pukul 15.00, karena ombak besar setelah itu berisiko tinggi.

Keterbatasan ini menunjukkan bahwa mobilitas warga sangat bergantung pada cuaca dan waktu. Warga tidak hanya berhadapan dengan jarak, tetapi juga dengan ketidakpastian alam. Keterbatasan mobilitas ini terasa semakin penting karena fasilitas pendidikan dan kesehatan di pulau juga masih terbatas.

Kabar gembira datang dari Ibu Kurniati, yang berbagi informasi bahwa pemerintah berencana menghadirkan pete-pete laut.

“Ini solusi bagus untuk mobilitas antarpulau,” pikirku.

Apalagi jika moda ini nantinya gratis, maka keberadaannya bukan hanya memudahkan perjalanan warga ke Makassar, tetapi juga dapat membantu anak-anak sekolah yang membutuhkan akses lebih mudah dan terjangkau.

Saya berharap realisasinya cepat, agar warga tak terisolasi. Kehadiran moda ini, jika benar-benar diwujudkan, bisa menjadi langkah penting untuk memperkuat hubungan Barrang Lompo dengan Makassar dan wilayah sekitarnya, sekaligus membuka akses yang lebih baik bagi pendidikan, kesehatan, dan aktivitas harian masyarakat.

BACA JUGA:  Kolaborasi Kebaikan HDCI dan Rumah Zakat Makassar Ajak 50 Anak Yatim Belanja Baju Lebaran

*Jejak Pembangunan dan Ruang yang Mulai Bergerak*

Selama perjalanan, saya menemukan hal yang sangat menarik secara akademik. Ternyata program KOTAKU dari PU ada di pulau ini. Saya tidak menyangka program ini sampai ke pulau-pulau.