News  

Menapaki Pulau, Membaca Mobilitas dan Perubahan Ruang

Di Barrang Lompo, motor listrik menjadi simbol efisiensi baru, namun pada saat yang sama juga memunculkan persoalan keselamatan yang tidak bisa dianggap sepele.

*Di Antara Ombak, Roda, dan Harapan*

Infrastruktur pendukung mobilitas menambah cerita. Listrik di pulau bergilir, hanya menyala 12 jam dari pukul 18.00 hingga 06.00.

Saat wawancara dengan Ibu Junaida, beliau menjelaskan penyebab seringnya mati-nyala: “Semua warga isi daya motor listrik bersamaan ketika listrik nyala.”

Situasi ini bikin pengisian ulang jadi tantangan harian. Bagi saya, kalimat itu sangat kuat, karena di baliknya ada gambaran nyata tentang ketergantungan warga pada listrik dan bagaimana energi membentuk pola hidup sehari-hari.

Guiding block untuk penyandang netra yang kami temui sudah tak layak, hampir tertutup tanah, berlubang di sisi jalur, dan membuatnya berbahaya. Motor ambulans dan pemadam kebakaran terlihat di pinggir jalan, tapi kondisinya usang, berdebu, dan jarang dipakai.

Dari kejauhan, ambulans laut terparkir, tapi jaraknya terlalu jauh untuk diamati. Semua itu menunjukkan bahwa fasilitas dasar memang ada, tetapi belum sepenuhnya hadir sebagai layanan yang siap dan layak digunakan kapan saja.

BACA JUGA:  Kabupaten Bantaeng Raih Penghargaan Outstanding Public Service Innovations KIPP 2025

Kami juga melakukan pengukuran kemiringan jalan di fasilitas umum seperti masjid, sekolah, dan puskesmas. Hasilnya sangat kurang. Akses masih jauh dari ramah disabilitas, dengan tanjakan curam dan permukaan yang tidak rata.

Ini krusial karena mayoritas warga adalah nelayan pencari teripang, dan dari pengamatan serta wawancara, banyak di antara mereka mengalami kelumpuhan akibat pekerjaan fisik berat di laut.

Fasilitas rehabilitasi yang tersedia pun sangat minim, hanya berupa parallel bars dari kayu kasar yang mereka rakit sendiri untuk latihan berjalan. Pemandangan itu membuat saya membayangkan betapa sulitnya menjalani aktivitas sehari-hari di pulau dengan keterbatasan fasilitas kesehatan dan aksesibilitas yang belum memadai.

Dalam konteks ini, mobilitas bukan hanya soal alat transportasi, tetapi juga soal kemampuan tubuh untuk bergerak dengan aman di ruang yang tersedia.

Di sisi lain, ada odong-odong, transportasi umum lokal yang dapat memuat sekitar 6–8 orang. Saat ini kendaraan tersebut lebih sering digunakan sebagai hiburan rakyat dan bahkan katanya dipakai untuk menidurkan anak-anak.

BACA JUGA:  Rumah Zakat Salurkan 10 Perlengkapan Sekolah di Kota Makassar

Kami sempat menaikinya. Musiknya nyaring dan bangkunya bergoyang saat melewati jalan yang tidak rata.

Meski terlihat sederhana, menurut saya odong-odong memiliki potensi besar jika dikembangkan dengan lebih serius. Bayangkan jika kendaraan ini didesain lebih inklusif dan menggunakan energi ramah lingkungan seperti listrik atau solar.