Milad PKS 24 Tahun, Ini Kata Mallarangang Tutu Ketua MPW PKS Sulsel

NusantaraInsight, Makassar — Perayaan Milad ke-24 Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pada tahun 2026 terasa berbeda. Ia tidak hanya hadir sebagai penanda usia organisasi, tetapi menjelma menjadi ruang refleksi kebangsaan-sebuah jeda untuk merenung, sekaligus pijakan untuk melangkah lebih kokoh.

Tema besar “Bersama Rakyat Menguatkan Ketahanan Indonesia” seolah menjadi kompas yang mengarahkan seluruh energi gerakan pada tiga simpul utama kehidupan bangsa yakni “ekonomi, pangan, dan energi.”

Di Makassar, denyut refleksi itu terasa hidup dalam sebuah forum yang sederhana namun sarat makna yakni Ngopi Ide : *Meracik Kemandirian Finansial dan Ketokohan Sosial.”

Diselenggarakan oleh Bidang Kepanduan dan Kepemimpinan (BKKP) DPW PKS Sulawesi Selatan pada 25 April 2026 di Swiss-Belinn Panakkukang Makassar, kegiatan ini mempertemukan gagasan, pengalaman, dan harapan dalam satu ruang dialog yang hangat.

Di tengah diskusi itu, Mallarangang Tutu tampil bukan sebatas sebagai pembicara, tetapi sebagai penutur arah-merajut antara realitas lokal dan visi nasional.

Dengan gaya bicara yang tenang namun tajam, ia mengajak peserta untuk melihat Sulawesi Selatan bukan hanya sebagai wilayah administratif, melainkan sebagai “gerbang Indonesia Timur” yang menyimpan tanggung jawab besar dalam menopang ketahanan bangsa.

BACA JUGA:  Apa Saja yang Dilarang di Masa Tenang Pemilu berikut Sanksi dan Dendanya

Namun yang menarik, arah yang ia tawarkan tidak semata teknokratis. Ia justru kembali menggali akar-menyentuh nilai-nilai luhur yang telah lama hidup dalam masyarakat Bugis-Makassar yakni sipakatau, sipakalebbi, sipakainga.

Tiga prinsip ini bukan sebatas petuah budaya, melainkan sistem nilai yang jika dihidupkan kembali, mampu menjadi fondasi pembangunan yang berkeadaban.

Mallarangang Tutu seakan mengingatkan bahwa krisis yang dihadapi bangsa hari ini bukan hanya krisis sumber daya, tetapi juga krisis relasi antarmanusia.

Di sinilah sipakatau-memanusiakan manusia-menjadi pintu masuk. Dalam konteks ekonomi, misalnya, ia menyoroti bagaimana sistem sering kali melupakan manusia sebagai subjek utama.

Padahal, ekonomi yang kuat lahir dari penghargaan terhadap pelaku-pelaku kecil: pedagang lorong, petani desa, hingga pelaku UMKM. Ketika manusia dimuliakan dalam aktivitas ekonomi, maka pertumbuhan tidak lagi kering dari nilai.

Ia kemudian mengalir ke sektor pangan. Dengan nada yang lebih dalam, ia menegaskan bahwa pangan bukan sebatas komoditas, tetapi identitas dan kedaulatan. Sulawesi Selatan, dengan hamparan sawah dan lautnya, memiliki potensi besar untuk menjadi penyangga pangan nasional.