Kedua, revitalisasi sektor pangan berbasis lokalitas.
Mendorong kedaulatan pangan melalui pertanian terpadu, urban farming, dan penguatan peran petani muda. Dalam semangat sipakalebbi, negara dan masyarakat perlu menempatkan petani dan nelayan sebagai profesi yang bermartabat, bukan pilihan terakhir.
Ketiga, percepatan kemandirian energi berbasis potensi daerah.
Pengembangan energi terbarukan seperti tenaga surya, air, dan biomassa harus menjadi prioritas. Edukasi publik tentang hemat energi juga penting sebagai bentuk sipakainga-saling mengingatkan dalam menjaga keberlanjutan.
Keempat, integrasi nilai budaya dalam kebijakan publik.Setiap program pembangunan hendaknya tidak tercerabut dari akar budaya lokal. Nilai sipakatau, sipakalebbi, sipakainga perlu diterjemahkan dalam regulasi, pendidikan, dan gerakan sosial.
Kelima, penguatan ketokohan sosial berbasis pelayanan.
Melahirkan figur-figur masyarakat yang tidak hanya populer, tetapi juga berintegritas dan berdaya guna. Ketokohan sosial harus lahir dari pengabdian, bukan pencitraan.
Keenam, membangun ekosistem kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, masyarakat, akademisi, dan dunia usaha harus duduk bersama dalam semangat saling menguatkan. Tidak ada ketahanan tanpa kebersamaan.
Menjelang akhir diskusi, suasana menjadi lebih hening-bukan karena sepi, tetapi karena setiap orang larut dalam perenungan. Apa yang disampaikan bukan sebatas gagasan, tetapi panggilan untuk bergerak.
Milad ke-24 PKS di Sulawesi Selatan akhirnya menemukan maknanya yang paling dalam yakni bahwa membangun bangsa tidak cukup dengan strategi, tetapi harus ditopang oleh nilai. Dan nilai itu telah lama hidup dalam kearifan lokal masyarakatnya.
Dari Makassar, sebuah pesan sederhana namun kuat mengalir yakni jika sipakatau menjadi nafas, sipakalebbi menjadi sikap, dan sipakainga menjadi pengingat, maka ketahanan Indonesia bukan lagi sebatas cita-cita – melainkan keniscayaan yang sedang dibangun bersama.
By : Bang Maman redaktur khusus NusantaraInsight.com












