NGOPI IDE: Rahman Rumaday Sebut Dirinya Seperti Tempat Sampah

Tempat sampah
Rahman Rumaday saat membawa materi, Sabtu (25/4/2026)

NusantaraInsight, Makassar — “Saya di lorong itu seperti tempat sampah, yang sehari-hari mendengarkan keluhan warga dan meminta solusi atas permasalahannya,” ungkap Rahman Rumaday (Ketua Bidang Kepanduan dan Kepemimpinan -BKKP-Partai DPW PKS & Penggiat Sosial) saat menyampaikan materinya pada acara NGOPI IDE bertema, “Meracik Kemandirian Finansial dan Ketokohan Sosial” yang juga menghadirkan narasumber, Mallarangang Tutu, S.Pt (Ketua MPW & Ketua Fraksi DPRD Sulsel) dan drg. Irwan Setiawan (Ketua Deputi Jejaka BKKP DPW & Entrepreneur Muda) dan dibuka oleh Ketua DPW PKS Sulsel Anwar Faruq, S.Kom.,M.M, Sabtu (25/4/2026) di SWISS-BELINN Panakkukang.

Rahman Rumaday yang akrab disapa Bang Maman itu juga, menjelaskan untuk mendapatkan ketokohan tak perlu punya jabatan dan tak perlu memiliki uang akan tetapi memiliki manfaat kepada orang banyak.

“Karena saya membagi dua ketokohan itu, yaitu ketokohan sosial dan juga ketokohan oportunistik. Dimana ketokohan oportunistik itu mencari keuntungan pribadi atau kepentingan diri sendiri dengan memanfaatkan situasi, peluang, atau kelemahan pihak lain, seringkali dengan menggunakan tipu daya. Biasanya ada Pi maunya baru datang,” jelasnya.

BACA JUGA:  Menyala Abangku! Ribuan Warga 2 Kecamatan Mengkendek dan Gandasil Siap Menangkan VISI

“Sedangkan ketokohan sosial ini adalah status, pengaruh, dan kredibilitas yang dimiliki seseorang di mata masyarakat, yang membuat mereka dihormati dan diikuti. Jadi harus dipercayai terlebih dahulu,” ucap Bang Maman yang juga Founder Kampus Lorong Komunitas Anak Pelangi (K-apel) ini.

“Kalau saya menciptakan kepercayaan masyarakat dengan pendekatan kepada mahluk terkuat di bumi yaitu Ibu-ibu. Kita tahu sumber informasi terkuat, terakurat dan tercepat itu ibu-ibu mengalahkan satelit manapun,” ujarnya.

“Yang kedua itu, melakukan pendekatan kepada anak-anak, karena biasanya ibu-ibu lebih percaya kepada anaknya di banding bapaknya. Jadi jika keduanya bisa kita rangkul, insya Allah ketokohan sosial bisa kita raih,” tukas pria berkacamata tebal ini.

“Maka dari itu, jika ketokohan sosial bisa kita capai, siap-siap mi menjadi tempat sampah,” tandas pria dari Maluku yang besar di Papua dan mengetahui lorong-lorong yang ada di kota Makassar dibandingkan sebagian masyarakat kota Makassar mengulangi pernyataannya.