KAHMI Buka Puasa di Kediaman Pak JK

NusantaraInsight, Jakarta — Majelis Nasional Keluarga Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI), Jumat (6/3/2026) petang mengadakan acara berbuka puasa yang dilanjutkan dengan salat tarawih berjamaah di kediaman Ketua Dewan Etik KAHMI M.Jusuf Kalla (JK) di Jakarta.

Hadir pada acara buka puasa bersama ini, Prof.Dr.Komaruddin Hidayat yang juga Rektor Universitas Islam Internasional (UII) sekaligus menyampaikan ceramah. Wakil Ketua Dewan Etik KAHMI Hamdan Zoelva, dan Sekretaris Dewan Etik KAHMI Muhlis Patahna dan puluhan anggota KAHMI.

JK pada kesempatan itu mengatakan, gejolak konflik antara AS-Isarel dan Iran ke depan jelas akan berpengaruh terhadap kondisi perekonomian Indonesia.

Jika kondisi ini terus berlangsung, Indonesia akan kesulitan membayar utangnya karena tidak ada pendapatan, sementara perbelanjaan kian meningkat. Antara pendapatan dengan belanja dan kewajiban membayar utang mengalami ketimpangan.

“Saya minta kepada KAHMI untuk lebih fokus pada aktivitasnya masing-masing. Yang di kampus teruslah mengajar dengan baik, dan yang bergerak di bidang ekonomi tetaplah berusaha dengan baik,” ujar JK.

Prof.Komaruddin Hidayat mengatakan, banyak menerima pertanyaan mahasiswa asing yang heran melihat kebersatuan Indonesia sebagai suatu negara yang terdiri atas beribu-ribu pulau.

BACA JUGA:  Pemkab Maros dan Desa Benteng Gajah Raih Penghargaan Proklim dari KLHK

“Kok bisa bangsa Indonesia bersuku-suku dan berbangsa lain, bisa menjadi satu. Lain bahasa dan agama, kok bisa menjadi satu. Jadi di situlah kami menjelaskan kepada mereka tentang Islam Wasakiah, semacam mata kuliah dasar umum. Semua fakultas dan agama apa pun juga mengambilmata kuliah ini,” ujar Komaruddin Hidayat.

Pertanyaan dari mahasiswa asing itu adalah bagaimana Islam bisa berkembang di Indonesia, padahal dihalangi oleh Hindia (Hindu), sebelah utara Thailand (Budha), sebelah timurnya China dan tenggara Australia. Mengapa tiba-tiba Indonesia menjadi kantong umat Islam.

“Itu satu keajaiban sejarah,” kata Komaruddin Hidayat.

Dia menjelaskan, dulu di Nusantara ini merupakan pusat kebudayaan Hindu Budha. Monumennya yang paling nyata adalah Borobudur dan Prambanan. Belum lagi patung-patung banyak sekali. Sampai hari ini objek turis yang dibanggakan adalah Pulau Bali dan candi Hindu Budha itu. Jadi yang dibanggakan itu adalah warisan Hindu Budha.

Sementara di India kalau Islam itu Taj Mahal di Kota Agra. Di Spanyol adalah Al Hambra, di Konstatinopel adalah Aya Sophia (Katolik) dan kini diubah menjadi Istanbul.

BACA JUGA:  Presiden Terpilih Prabowo Subianto Rencana Rombak Kementerian Keuangan dan Kementerian BUMN

Indonesia ini, kata Komaruddin Hidayat, mempunya lapisan-lapisan budaya, Hindu Budha, Islam, Kristen,Katolik. Dan yang menarik, ide apa saja di Indonesia itu laku. Untuk menjawab bagaimana Islam bisa hidup di tengah Hindu Budha, karena Islam datang ke Indonesia dibawa oleh pedagang. Ciri pedagang memperbanyak kawan, tidak mau mencari musuh. Sebab kalau banyak musuh bagaimana dagangnya, hancur.