Catatan M.Dahlan Abubakar
NusantaraInsight, Jakarta –Sebenarnya saya sudah seringkali bertemu dengan Kang Boyke Adam, salah seorang kiper legendaris Persib Bandung era 1970-1990-an.
Ternyata dia kakak kandung R.A. Nina Damayanti, S.H. — istri adik sepupu saya Dr.Hamdan Zoelva, S.H.,M.H. Kang Boyke Adam anak sulung dan Mbak Nina anak kedua dari enam bersaudara.
Bahkan pada tahun 2018 — jika tidak salah — Kang Boyke pernah ke Bima dan kami bertemu di sana. Di kediaman adik Hamdan di Doro Belo Bima, saya diinformasikan oleh Mbak Nina, jika kakaknya adalah salah seorang kiper Persib pada masanya.
Di Jakarta saat saya menginap di Lebak Bulus, kediaman adik Hamdan, saya kerap bertemu dengan Kang Boyke, namun tidak sempat berbincang-bincang lama.
Sebelumnya, Nina hanya memberi tahu kalau abangnya itu adalah penjaga gawang. Belakangan saya kemudian mengetahui kalau abangnya itu bernama Boyke Adam. Nama yang tentu saja sebagai wartawan olahraga dan sering meliput pertandingan sepak bola di Stadion Utama (Gelora Bung Karno) Senayan Jakarta, saya hafal di luar kepala.
Pada kedatangan saya di Jakarta dan menginap di kediaman adik Hamdan Zoelva, saya kerap bertemu Kang Boyke Adam di sini. Begitu pun 6 Februari 2026, beberapa hari setelah itu, pada suatu pagi baru, saya menyempatkan diri bercerita dengan Kang Boyke lebih lama di kursi di pinggir kolam kediaman adik Hamdan.
Kang Boyke Adam, S.H., M.M. yang dilahirkan di Bandung 8 Januari 1959 pensiun dari bermain bola, mendirikan Sekolah Sepak Bola (SSB) Boyke Adam Football Club (BAFC).
Melalui akademi sepak bola inilah pensiunan PT PLN Jawa Barat ini mendidik anak-anak yang bertalenta menjadi seorang pemain sepak bola. Salah seorang didikannya yang kini berdiri di bawah kiper tim nasional U-23 adalah Aqil M.Saviq.
Kehadiran Kang Boyke di lapangan hijau sebenarnya secara kebetuilan. Menurut ceritanya seperti dilansir beberapa media daring, ketika belajar di SMP di Garut, perjalanan Kang Boyke sebagai pemain bola bermula.
Itu terjadi ketika dia ikut kedua orang tuanya, Raden Muhammad Bob Jacob Ishak-Hj Itjeu Aisah yang dipindahtugaskan ke Garut sebagai Kepala Kejaksaan Negeri pada tahun 1967. Tidak heran kalau Kota Garut yang terkenal sebagai kota dodol itu juga di mata Kang Boyke dijuluki sebagai “Kota Intan”. Tidak jelas apa maksudnya.
Dia pun masuk kelas 3 SD dan SMP bertepatan dengan ayahnya R.M.Bob Jacob Ishak terpilih sebagai Bupati Garut pada tahun 1967.
Pada suatu hari, tim SMP yang diperkuat Kang Boyke mengikuti satu pertandingan. Lantaran penjaga gawang timnya cedera, Kang Boyke yang sedang di posisi penyerang dan sudah mencetak dua gol, ditarik sebagai kiper cadangan. Ternyata saat itulah dia tidak bergeser posisi sebagai pemain yang berdiri di bawah mistar gawang.












