Ada juga pasangan Annar Sampetoding-Ilham Arief Sirajuddin dengan 6,8 persen.
Disebutkan bahwa tingkat elektabilitas belum ada yang menyentuh angka 50 persen. Karena itu, 5 calon yang disurvei masih memiliki peluang yang sama untuk memenangkan kontestasi Pilgub Sulawesi Selatan.
Untuk pasangan Calon Gubernur-Wakil Gubernur dibutuhkan popularitas di atas 50 persen sebelum pendaftaran di KPU dan Popularitas di atas 70 persen sebelum H-30, sehingga 5 opsi calon yang tersedia dan menguat dalam simulasi, secara teori masih berpeluang untuk berpasangan dan melaju hingga hari pemenangan.
Bagi pasangan calon (dalam simulasi) yang mampu menyentuh angka elektabilitas di atas 50 persen sebelum H-30, secara peluang merekalah yang akan memenangkan Pilkada Gubernur Sulawesi Selatan.
“Khusus untuk bakal calon Gubernur dengan elektabilitas paling rendah, dalam hal ini Annar Salahuddin Sampetoding (6,7 persen), peluangnya masih terbuka sepanjang mampu memaksimalkan dukungan dari unsur kekerabatan 4 etnis, terutama kekerabatan suku Toraja,” ucap Saparuddin.
Menurutnya, fakta obyektif hasil survei yang mereka lakukan menunjukkan bahwa meskipun Annar Salahuddin Sampetoding belum melakukan pergerakan kinerja elektoral di lapangan, namanya tetap menjadi salah satu yang banyak disebut oleh pemilih ketika pertanyaan survei dilakukan secara semi terbuka dan menawarkan nama calon.
“Isu budaya dan ekonomi menjadi faktor pembeda antara Annar Salahuddin Sampetoding dengan calon lainnya,” ucap Saparuddin.
“Annar Salahuddin Sampetoding mendapat sentimen positif dari sisi isu ini, sebab faktor budaya 4 etnis utama di Sulsel tidak mendapat perhatian yang serius dalam pembangunan selama beberapa tahun terakhir,” tutupnya.
Fakta survei bahwa probabilitas dan peluang dukungan elektoral sebagai kontribusi tertinggi berasal dari pemuda/millenial dan masyarakat umum/akar rumput yang belum dimasuki oleh tim-tim lain, sehingga penting sekali untuk melakukan kerja-kerja elektoral secara langsung ke level tokoh pemuda dan masyarakat secara langsung dengan mengutamakan program-program pragmatis/bantuan langsung.
Tingkat pragmatisme pemilih untuk pilkada kali ini diperkirakan akan sangat tinggi. Ini disebababkan oleh irisan Pilpres dan Pileg Februari lalu yang mayoritas calon mengandalkan program pragmatis/ bantuan langsung tunai. (*)












