Seminar menghadirkan tiga pembicara, masing-masing Mohammad Hasan, SH, MH (Pustakawan Ahli Utama Dispusarsip Sulsel), Dr Iskanda, S.Sos, MM (Pustakawan Unhas), dan Dr Irsan, S.I.P, M.I.P (Pustakawan dari DPK Enrekang). Seminar ini dipandu Dini Nurul Nazhifah, S.IP sebagai moderator.
Dr Irsan, pustakawan pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Enrekang mengatakan, pustakawan itu pekerja pengetahuan. Ditekankan bahwa perpustakaan mesti menjadi ruang belajar masyarakat.
Ditambahkan, perpustakaan perlu bertransformasi karena ada informasi baru, perubahan teknologi, ketrampilan baru, serta harapan masyarakat akan layanan dan ruang publik yang mampu memenuhi kebutuhan mereka.
“Konsep inklusi sosial mestinya menjadikan perpustakaan tidak hanya diisi oleh kalangan terpelajar dan intelektual, tetapi juga oleh para praktisi,” papar mantan Ketua IPI Kabupaten Enrekang itu soal transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial (TPBIS).
Dalam konteks TPBIS, ia menekankan pentingnya peran pustakawan sebagai fasilitator dan jembatan akan kebutuhan pemustaka.
“Hari ini kita mesti happy. Karena merupakan hari jadi kita. Orang happy itu akan dengan senang hati melakukan evaluasi atas apa yang dikerjakan dan akan dilakukan ke depan,” kata Moh Hasan Sijaya, Pustama Dispusarsip Sulsel, memulai pemaparannya.
Sebagai pustakwan, kata mantan Kepala Dispusarsip Sulsel itu, maka mesti mengetahui jati dirinya. Harus berani introspeksi. Karena kalau tidak kenal jati diri, maka jangan bermimpi orang lain akan menghargai kita.
Hasan Sijaya menekankan pentingnya profesionalisme dengan memberikan layanan terbaik dan berkualitas, termasuk melakukan inovasi.
Setiap yang dilakukan, tambahnya, mesti punya goal yang ingin dicapai.
Ikatakan Pustakwan Indonesia itu yang jadi pengikat emosinal setiap pustalawan untuk saling menguatkan satu sama lain.
“Tidak ada di AI itu ketika kita bekerja secara profesional dan ikhlas,” pungkas Hasan Sijaya. (*)

br
br






br





