Sport  

FIFA Diterpa Banyak Kasus

Presiden FIFA Gianni Infantino dan Cristiano Ronaldo (Foto:Reuters).
Presiden FIFA Gianni Infantino dan Cristiano Ronaldo (Foto:Reuters).

Presiden FIFA Gianni Infantino menghentikan sejenak Presiden AS Donald Trump saat acara pengundian Piala Dunia Sepak Bola 2026 di Kennedy Center, Washington, Jumat, 5 Desember 2025.

Parlemen Eropa luncurkan penyelidikan
REPUBLIKA.CO.ID, mewartakan, Presiden FIFA Gianni Infantino menghadapi tekanan baru setelah mengizinkan striker Amerika Serikat, Folarin Balogun, tetap tampil meskipun sebelumnya menerima kartu merah di Piala Dunia 2026. Puluhan anggota Parlemen Eropa menggalang dukungan untuk meluncurkan penyelidikan atas dugaan keterlibatannya dalam keputusan kontroversial tersebut.

br

Infantino juga berpotensi menghadapi penyelidikan dari Komite Olimpiade Internasional setelah sebuah organisasi hak asasi manusia yang bergerak di bidang olahraga menyatakan akan mengajukan pengaduan resmi terkait dugaan pelanggaran prinsip netralitas politik.

Kontroversi bermula ketika Balogun mendapat kartu merah saat Amerika Serikat mengalahkan Bosnia-Herzegovina pada 1 Juli 2026. Berdasarkan regulasi, hukuman tersebut seharusnya membuat penyerang berusia 25 tahun itu absen pada laga berikutnya.

Namun, FIFA pada Senin lalu mencabut skorsing satu pertandingan tersebut setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melakukan lobi kepada Infantino agar Balogun dapat kembali bermain.

BACA JUGA:  Ratusan Atlet Ramaikan Parade Sepatu Roda Makassar

Anggota Parlemen Eropa Barry Andrews, Lara Wolters, dan Niels Fuglsang, menilai keputusan FIFA tersebut mencederai prinsip keadilan dalam sepak bola.

“Keputusan FIFA mengubah aturan mengenai skorsing kartu merah di tengah turnamen adalah sebuah aib dan penyimpangan terhadap keadilan,” demikian pernyataan bersama ketiga anggota parlemen tersebut.
Mereka juga meminta asosiasi sepak bola nasional di negara-negara Uni Eropa mendesak Komite Etik FIFA menyelidiki apakah tekanan dari pemerintahan Trump memengaruhi pencabutan hukuman Balogun. Selain itu, mereka meminta penyelidikan terhadap dugaan pelanggaran netralitas politik lainnya, termasuk pemberian Hadiah Perdamaian FIFA kepada Trump.

Di sisi lain, FIFA menegaskan bahwa pencabutan hukuman Balogun merupakan keputusan Komite Disiplin FIFA, bukan keputusan pribadi presidennya.

Hingga kini, sebanyak 35 anggota Parlemen Eropa dilaporkan telah menandatangani surat dukungan untuk penyelidikan tersebut.
Menurut para legislator, olahraga hanya akan dihormati apabila aturan diterapkan secara adil kepada semua peserta tanpa intervensi politik.

“Keindahan olahraga adalah olahraga didasarkan pada aturan yang tidak memihak dan transparan. Ketika Infantino membiarkan tekanan politik menentukan siapa yang boleh bermain, rasa keadilan itu hilang,” kata mereka.

br
brbr