5.Istirahat Minum Piala Dunia 2026
Urusan di dalam lapangan sepak bola pun kini mulai diutak-atik oleh FIFA demi meraup keuntungan dari sektor hak siar dan komersial. FIFA menerapkan aturan jeda minum wajib selama tiga menit yang membuat jalannya pertandingan seolah-olah dibagi menjadi empat kuarter.
Kebijakan baru ini dicurigai keras sengaja dibuat untuk memberikan ruang bagi slot iklan televisi komersial yang bernilai sangat mahal. Saat iklan muncul, tidak terhitung berapa banyak cuan masuk ke kantong FIFA yang bersumber dari perusahaan yang produknya tayang itu.
6.Harga Tiket Piala Dunia 2026
Masalah harga tiket Piala Dunia 2026 juga menjadi mimpi buruk bagi para pencinta sepak bola di seluruh dunia. FIFA menerapkan sistem harga dinamis yang mencekik, hingga membuat harga tiket pertandingan final meroket sampai angka Rp170 juta.
Parahnya lagi, FIFA mengizinkan tiket dijual kembali dengan harga selangit dan mereka tetap mengambil potongan keuntungan sebesar 15%. Hitung saja berapa keuntungan diperoleh FIFA. Jangan pertandingan final, penonton yang menyaksikan pertandingan 16 besar saja penuh sesak pada beberapa stadion yang dipilih sebagai lokasi pertandingan.
7. Wasit Somalia Ditolak
Skandal berikutnya melibatkan aroma politik yang kental saat wasit terbaik asal Afrika, Omar Artan, dilarang masuk ke wilayah Amerika Serikat. Pemerintahan Trump menuduh wasit asal Somalia tersebut memiliki keterkaitan dengan jaringan organisasi teroris internasional.
Bukannya membela sang pengadil lapangan, Infantino justru memilih angkat tangan dan meminta semua pihak untuk bersikap tenang. Bahasa yang terkesan santun dari FIFA sebagai trik menghindar untuk tampil membela wasit yang merasa terzalimi oleh satu rezim.
8.Perlakuan Diskriminatif Timnas Iran
Terakhir, FIFA dinilai menutup mata dan membiarkan intervensi politik menekan partisipasi Timnas Iran di atas lapangan. Akibat ketegangan geopolitik yang memanas, skuad Iran dipaksa untuk mengungsi dan bermarkas di negara tetangga, Meksiko.
Kapten Iran, Mehdi Taremi, dengan lantang mengecam Infantino karena dianggap ingkar janji dan sama sekali tidak membantu kesulitan logistik timnya. Mehdi Taremi
Persoalan yang menimpa Tim Nasional Iran ini sebenarnya muncul seiring dengan krisis akibat serangan As-Israel terhadap Iran 28 Februari 2026. Iran bahkan sempat melontarkan keinginan mengundurkan diri dari perhelatan ini mengingat risiko yang akan dihadapi dari otoritas tuan rumah AS.
Persoalan tidak berhenti pada visa. Awalnya Iran berencana menjadikan Kota Tucson di Arizona sebagai markas utama selama turnamen. Namun rencana itu batal. Sebagai gantinya, FIFA menyetujui permintaan Iran untuk menjadikan Tijuana, Meksiko, sebagai pusat latihan dan tempat tinggal tim. Keputusan ini menciptakan salah satu pengaturan logistik paling tidak biasa dalam sejarah Piala Dunia.
Duta Besar Iran untuk Meksiko, Abolfazl Pasandideh, mengungkapkan, pihaknya mendapat informasi bahwa pemain Iran hanya diperbolehkan memasuki wilayah Amerika Serikat pada hari pertandingan dan harus segera meninggalkan negara tersebut setelah laga berakhir.
Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, bahkan menyatakan bahwa FIFA meminta Meksiko membantu menjadi tuan rumah bagi Tim Nasional Iran karena Amerika Serikat tidak menghendaki tim tersebut menginap di wilayahnya.
Akibatnya, Iran akan bermarkas di Tijuana dan melakukan perjalanan bolak-balik ke Amerika Serikat untuk menghadapi lawan-lawannya. Menghabiskan banyak waktu bagi sebuah tim untuk menghadapi satu pertandingan jelas sangat merugikan. Mereka dijadwalkan bermain melawan New Zealand dan Belgia di Los Angeles serta menghadapi Mesir di Seattle, AS.
Di tengah ketegangan politik selama puluhan tahun antara Teheran dan Washington, olahraga sering kali menjadi satu-satunya ruang dialog yang masih tersisa. Dunia masih mengingat pertandingan bersejarah antara Iran dan Amerika Serikat pada 1998 FIFA World Cup. Saat itu Iran menang 2–1 dan para pemainnya memberikan bunga putih kepada lawan mereka sebelum pertandingan. Momen tersebut menjadi simbol perdamaian yang dikenang dunia hingga hari ini. Di lapangan hijau, aroma politik tidak pernah hadir.

br
br






br
br





