Sepulang sekolah di salah satu STM Negeri di kawasan Gunung Sari Baru Ujungpandang – kini Makassar dengan bersepeda pergi pulang. Setiba di rumah, Ariel selalu mendapatkan umminya duduk di kursi dekat pintu ruang tamu menantinya pulang. Saat melihat Ariel telah memasuki rumah raut wajah ummi langsung berseri-seri dengan senyuman puas. Ariel pun sangat paham bahwa umminya lagi menanti dengan penuh kekuatiran atas dirinya, pun perasaan perihatin Ariel kepada umminya yang kian mendalam.
Sesaat tiba dirumah ia tidak langsung beristirahat dan makan, namun ia dengan setia membantu umminya terlebih dahulu dengan membenahi dan membersihkan peralatan dapur yang masih berantakan dan kotor seperti piring, baskom dan lainnya yang belum sempat diselesaikannya.
Terdengar suara ummi: “Maeko rong akkadok, Nak!” ( Makanlah dulu, nak!).
Ariel membalasnya: “Iyye ummi, sinampeppi” (Iyya ummi, sebentar saja).
Semua itu dilakukannya dengan penuh kesadaran, mengingat usia umminya yang semakin tua pasti tenaganya semakin melemah. Apa tak lagi kakak tertuanya yang menikah dua tahun yang lalu bersama seorang dosen IKIP Ujungpandang -UNM Makassar sekarang. baru saja melahirkan putri pertamanya. Begitu halnya dengan kakak bungsunya, sibuk dengan urusan kantornya terkadang pulang sore hari, dia telah bekerja di salah satu instansi pemerintahan sebagai staf keuangan. Sejak itu Ariel sangat berubah, ia pun lebih memperhatikan kondisi umminya dan membantu sesuai dengan apa yang dapat dilakukan di dalam rumah.
Memasuki awal tahun 1979, Ariel menamatkan sekolah di STM pada jurusan Mesin Produksi. Ia berencana melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi, di Fakultas Kejuruan Teknik IKIP Ujungpandang sebagaimana saran umminya. Alasannya sangat sederhana, kata Ummi Te’ne kepada Ariel saat menyampaikan niatnya untuk melanjutkan kuliah.
Ummi Te’ne: “Ooh anakku, punna la akkuliako anjoreng mako ri IKI’ ” ( Ooh anakku, jika kamu endak berkuliah di IKIP saja) kata Ummi Te’ne dengan dialek lokalnya.
Ariel penasaran pada saran umminya, “Ummi, angngapai na ri IKIP..? La anjari guru jaki antu punna kamma anjo Ummi” (Ummi kenapa harus di IKIP..? Kalau begitu nantinya cuma jadi guru saja ummi!).
Ummi Te’ne: “Ooee anakku, anjo nikanaya guru nak..! Lompoi pangngainna na akmatumatu kacaradekanna, punna nupaentengi katonjenagannu angngajara, labbiriki antu tallasanu” (Ooee anakku, yang dimaksud guru itu nak..! Amat besar kecintaannya dan bermanfaat ilmunya, jika kamu tegakkan kebenaran atas dirimu dalam mengajar, akan mulialah kehidupanmu).
Ariel: “Mingka ummi..! (Tapi ummi..!) Perkataan Ariel terpotong di timpali suara umminya.
Ummi Te’ne: “Pilangngeri..! Taggalaki nikanaya pappasang, padongkoki ri ati maccinong, na nupaempo ri kuntu tojeng akkala pikkirannu. Lonna erokko salama lino akheraknu” (Dengarkan..! Genggam erat yang dikatakan nasehat, letakkan dalam kemurnian hatimu dan dudukkan pada kebenaran akal pikiranmu. Jika engkau mengharap keselamatan dunia akhiratmu).
Malam semakin larut, mata Ariel tak mampu terpejam walaupun sedari tadi ia diatas pembaringan. Suara umminya terus saja mengiang di telinganya, begitu besar harapan umminya untuk menjadikan Ariel sebagai guru. Padahal di impian Ariel sangat bercita-cita jadi pengusaha konstruksi.
Tak terasa tahun demi tahun terlewatkan setelah berbagai rintangan dan cobaan silih berganti yang dialaminya dalam menapaki perjalanan kehidupan dunia kampus. Awalnya memang sangat sulit dirasakannya, bagaimana Ariel menyeimbangkan kondisi keuangan yang kadang terkendala akibat ekonomi keluarga umminya yang terbatas. Namun jiwa dan nyalinya perjuangan hidupnya yang begitu besar serta didukung oleh kemampuan skill untuk berusaha, seiring dengan tekadnya itu untuk mengatasi semua masalah keuangan Ariel disamping mendapatkan bea siswa berprestasi, ia juga mencoba jual beli motor bekas, walaupun hanya sekedar bagaikan makelar saja, beli, pakai dan jual demi menanggulangi kondisi ekonominya selama kuliah.












