PAK BADARUDDIN AMIR TELAH PERGI MENGHADAP

keamanan dan ketertiban
kerjasama dengan aparat setia
CCTV dan patroli rutin dijalankan
rehabilitasi pelaku agar kriminalitas turun.

jika aku jadi walikota makassar
kebudayaan dan kearifan lokal
F8 – harus kembali dihidupkan

festival seni dan tradisi jadi ajang gemilang,
pusat kebudayaan dan museum
menjadi warisan makassar
agar generasi depan jadi bangga

penanggulangan bencana juga prioritas
edukasi dan infrastruktur harus tangguh
tim tanggap darurat harus siap siaga
dan kerjasama internasional
harus responsible

jika aku jadi walikota makassar
maka para wartawan cetak dan online
hanya boleh menuliskan inovasi dan solusi nyata
bagi pembangunan kota
makassar akan berkembang
jadi kota tercinta
warga makassar harus menjadi yang terbaik
melalui visi-misi kota yang mulia.
Barru, 2024

Kedua, saya kemali menghubunginya lagi untuk meminta foto dan profil singkatnya untuk saya lampirkan pada tulisannya Dia dengan cepat ia membalas chat saya dengan mengirimkan foto lengkap dengan profil singkatnya.
BIODATA BADARUDDIN AMIR :
Badaruddin Amir lahir di Barru pada 4 Mei 1962. Menulis esei, puisi, dan cerpen di beberapa media, memenangi lomba menulis puisi dan cerpen tingkat propinsi dan nasional. Bukunya “Aku Menjelma Adam” (kumpulan puisi,2002), “Latopajoko & Anjing Kasmaran” (kumcer, 2007), “Laki-Laki yang Tidak Memakai Batu Cincin” (kumcer, 2015), “Risalah” (kumcer, 2019), “Karya Sastra Sebagai Bola Ajaib” (kumpulan esai, 2008). Yang lain termuat dalam delapan puluhan antologi bersama. Menerima penghargaan sastra “Celebes Award” (2005) dari Gubernur Sulsel, “Acarya Sastra” (2007) dari Pusat Bahasa, “Promising Writers” (2019) dari Banjarbaru’s Rainy day Literary Festival, “40 Tahun Menulis Sastra” (2024) dari Badan Bahasa dan Sastra Indonesia Kemdikbudristek. Beralamat di Jl. Pramuka No. 108 Barru, Sulawesi Selatan (90711), HP. 081342138499, e-mail : badarsaja@yahoo.co.id.

BACA JUGA:  Serenade Buat HM Daeng Patompo

Ketiga, pada 9 September, Pak Badar (begitu biasa dia dipanggil) mengirim chat yang isinya,
_”Assalamualaikum. Di mana saya bisa mendapatkan buku ‘Kalau Saya Jadi Wali Kota Makassar’ untuk koleksi perpustakaan pribadi, dan bagaimana mendapatkannya”? Saya kebetulan mau ke Makassar besok.”
Saya pun menjawab, “Iye’ siap pak, nanti kalau sudah jadi saya kirimkan ki’. Sementara dalam proses dicetak.”

Belum sempat saya mengirim buku “Jika Saya Menjadi Wali Kota Makassar” padanya, takdir berkata lain pak Badar telah dipanggil oleh Alllah menghadap sesuai ketentuan yang telah tercatat di catatan lauhil mahfuz
“Lailahaillallah…
Lailahaillallah…
Lailahaillallah…
Muhammadu Rasulullah…
pak Badar telah pergi menghadap
“Allah telah mencatat seluruh takdir makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi” (Hadits).

Saat melihat grup FOSAIT, sederet stiker ucapan belasungkawa berjejer. saya penasaran siapa yang meninggal, lalu saya scroll ke atas pesan chat yang tenggelam karena banyaknya ucapan belasungkawa dari anggota grup. Kaget saat membaca pesan pertama yang isinya lengkap dengan nama yang meninggal. Tangan saya tak bertenaga, dan HP pun jatuh dari genggaman jemari saya. Saya terdiam membeku, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Pak Badar, padahal beberapa pekan yang lalu saya baru chat denganmu. Hari ini saya dengar kabar duka tentangmu.” saya belum tahu penyakit apa yang kau derita, yang saya tahu engkau sehat-sehat saja sebab hampir setiap hari engkau mengirim curahan pikiran kritis mu melalui jari-jarimu tentang dunia tulis menulis dan dunia sastra di grup WhatsApp FOSAIT.