Novel Harmaun: Fakta plus Imajinasi

Selain sosok Harmaun sebagai penulis yang digambarkan dalam novel tersebut, juga ada sosok Ibu Kantin. Maryam nama Ibu Kantin itu dituduh hanya karena Kakaknya dianggap anggota Gerwani – onderbouw PKI. Begitupun iparnya, suami kakak Ibu Kantin dituduh anggota BTI – organisasi yang menghimpun para petani. Juga dianggap sangat berpengaruh mengembangkan ideologi PKI.

Selain penggambaran sosok sosok yang berafiliasi pada organisasi PKI itu; Lekra, Gerwani, BTI. Ada juga sosok pemuda namanya Aidin, aktivis organisasi Pemuda Rakyat. Keterlibatan Aidin di Pemuda Rakyat hanya sekedar ikut berpartisipasi pada kegiatan kegiatan sosial, seperti kerja bakti bersama masyarakat. Tidak pernah sama sekali terlibat membicarakan soal gerakan komunis.

Sekali lagi meskipun penggambaran sosok sosok itu hanya sekedar imajinasi seorang penulis. Tetapi bukan rahasia lagi tindakan intimidasi dan kekerasan yang dialami oleh sosok tersebut oleh mereka yang sering menggunakan sepatu laras sebuah realitas di masa awal pergerakan pasca GS 1965.

Atas tindakan aparat yang represif terhadap rakyat yang dituduh anggota atau pendukung PKI itulah yang ditunjukkan oleh sosok Harmaun dengan ekspresi terisak menangis dan wajah marah, mengoleskan darah yang ada ditelunjuknya di salah satu dinding penjara dengan satu kata “kejam”.

BACA JUGA:  Owner Shean Beauty Terima PROFAS AWARD Sebagai Tokoh Wanita Inspiratif

Begitu akhir sebuah novel Harmaun karya Andi Wanua Tangke.(*)