Di Kompetisi Piano Nusantara Plus, soprano Ratnaganadi Paramita menyanyikan aria ini, dari opera “I’m Not For Sale” dari teks puisi Emi Suy, yang membawanya menjadi Juara Pertama (1).
Sebuah kejuaraan yang lebih dari pantas, karena suara soprano Ratnaganadi sangat dalam dan menyayat hati. Ia pun tampil prima dengan gaun elegan Alleira Batik.
Di konser kemarin, selain aria opera ini, Ratna juga mempersembahkan dua tembang puitik yang berhubungan dengan sosok Ibu, yaitu “Membaca Ibu” dari puisi Heru Mugiarso dan “Perempuan Bersayap Malaikat” dari puisi Muhammad Subhan.
Lewat musiknya, Ananda menggali karakter sosok “Ibu” yang berbeda dari dua penyair yang memang gaya penulisannya juga sangat berbeda.Namun, keduanya sama-sama memiliki kekuatan dan keunikan.
Ratnaganadi dengan bagus sekali mampu menyampaikan dua lagu musik tersebut dengan sangat ekspresif melalui suaranya yang betul-betul merdu.
Kedalaman musikalitas dan pemahaman puitiknya menunjukkan bahwa ia memiliki kematangan teknik vokal soprano.
Ratna yang masih muda juga seorang sarjana neuroscience ini, didukung oleh iringan piano sang komponisnya sendiri telah memukau kami semua yang menonton.
Ratnaganadi belajar vokal di Amerika Serikat kepada Prof. Phillip Larson, Prof. Tiffany Du Mouchelle dan almarhum Maestro Prof. János Négyesy di University of California San Diego.
Perayaan Hari Perempuan juga disampaikan oleh permainan piano solo Ananda Sukarlan lewat “Virtuosic Variations on S.M. Mochtar’s ‘Kasih Ibu'” yang mengeksplorasi motif lagu “Kasih Ibu” melalui tekstur pianistik yang kaya dan penuh warna.
Sedangkan bariton Wirawan Cuanda yang menyandang Master of Music dari University of York, Inggris memilih dua tembang puitik berdasarkan puisi penyair Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), Sutikno W.S., berjudul “Apel (Cerita untuk Ibunda)” dan “Dari Jendela Ini” yang dipilih untuk babak final.
Ananda Sukarlan mengatakan bahwa Sutikno W.S. adalah salah satu penyair terbaik Lekra. Banyak karya besar lahir saat para penyair Lekra berada di penjara, namun nama mereka dan karya-karyanya hampir dilupakan.
Ananda menambahkan bahwa pemilihan puisi oleh Wirawan Cuanda menunjukkan pemahamannya yang kritis terhadap karya-karya tersebut.
Dua tembang puitik ini bernuansa gelap, hal ini wajar mengingat bahwa puisinya ditulis di dalam penjara dengan segala penderitaan yang mendera.
Memang sangat disayangkan karya-karya sastrawan seniman Lekra seakan-akan “lenyap tanpa asap”, tidak bisa ditemukan kini, tidak dicetak ulang, juga tidak dibicarakan.
Padahal itu bagian dari sejarah kita yang perlu dikaji, sebab bagaimana pun ada manusia yang diceritakan di sana, ada kesaksian tentang kehidupan, ada “jerit hewan yang terluka” kata Rendra.
Saya sangat apresiasi ketika karya penyair Lekra yang bahkan di dunia sastra sendiri jarang kembali dibaca atau dibacarakan justru turut diangkat dalam konser musik klasik kemarin, itu sungguh suatu upaya yang bagus untuk mengingatkan kita agar tidak lupa pada sejarah.
Sutikno W.S. yang dipenjara oleh rezim Orde Baru tanpa proses pengadilan sejak 1969 mulai menulis puisi di dalam Penjara Salemba pada 1970, di Penjara Tangerang pada 1972, dan di Pulau Buru sejak 1973, hingga akhirnya dibebaskan pada 1979.
Setelah tahun 1979, ia banyak menulis fiksi bacaan untuk anak-anak.
Para Pianis Muda
Ananda juga memperkenalkan pianis muda; Vivienne Thamrin, yang melengkapi tema Hak Asasi Manusia di konser ini dengan dua karya klasik Eropa, “Sonetto 104 del Petrarca” dari Franz Liszt (Hungaria), dan bagian ketiga dari Sonata in A major dari komponis Austria, Franz Schubert. Karya Franz Liszt itu juga terinspirasi dari mahakarya Francesco Petrarca (1304-1375), sastrawan dari zaman Renaissance yang memiliki julukan “Bapak Humanisme”.












