Catatan Cerpen ‘Ibu Gaib’ M.Amir Jaya Ilmu Ayah, Huruf “H” & “Dia Fana” yang Penasaran

Ibu gaib
Amir Jaya (kiri) bersama M Dahlan Abubakar

Kedua, peringatan Hari Ibu, juga menjadi bagian dari warna diskusi buku ini. Peringatan Hari Ibu yang dilaksanakan selama ini lebih kepada hal-hal yang seremonial rutin belaka.

Memang sejatinya, memakna dan menyikap suatu peringatan, suatu kelompok atau komunitas tertentu seharusnya memperingati hari tersebut dengan aktivitas kreatifnya masing-masing. Misalnya, Ikatan Penulis Muslim Indonesia (IPMI) memperingati Hari Ibu dengan peluncuran dan diskusi buku bertemakan dan menyoal tentang eksistensi dan jasa seorang ibu. Sehingga, peringatan Hari Ibu “semarak” dengan model aktivitas yang sangat variatif.

Ketiga, kisah tentang ibu adalah bagaikan mata air yang terus mengalir. Siapa pun dia, terutama orang Indonesia di perdesaan, memiliki masa bersama ibu dalam rentang waktu yang lama. Saya misalnya, mungkin tidak sama dengan anak-anak kota yang lebih lama membersamai ibunya. Anak-anak desa membersamai ibu mereka selama menjalani pendidikan dasar di desanya.

Pada saat menamatkan pendidikan SD, dia akan pindah ke tempat lain yang ada SMP. Begitu pun dengan saat di SMA dan perguruan tinggi. Kondisi seperti ini membuat seorang anak memiliki banyak waktu tidak bersama dengan ibunya. Di sisi lain, setiap hadir di depan ibunya pastilah melahirkan kisah tersendiri.

BACA JUGA:  "Seorang Teman di Langit" Muncul di Daeng Jakking Parangtambung

Itulah yang membuat seorang anak desa memiliki kisah bersama dan tentang ibunya. Kisah “Ibu Gaib” M.Amir Jaya justru terjadi pada saat sang anak sedang bersama-sama dengan sang Ibu. Kisahnya menjadi sangat mengasyikkan.

Berakhir dengan Penasaran

Cerpen “Ibu Gaib” M.Amir Jaya sangat menarik. Kita dibawa kepada suasana yang serba penasaran setiap paragraf. Jalan ceritanya pun lebih mudah dipahami karena penulis mampu mengonkretisasi kisah dengan deskripsi lokus yang dapat dimaknai pembaca dengan mudah dan lugas. Contohnya seperti gambaran masjid.

Penulis juga mampu menjawab penasaran pembaca dengan menampilkan sang Ibu bercerita tentang peristiwa yang dialaminya.
“Ia sedang mempraktikkan ilmu yang diajarkan ayahnya. Dirinya masuk ke dalam huruf “H”. Dan saat itu dia merasa kenikmatan yang luar biasa. Dia fana”.

Pada paragraf ini, meskipun penulis menampilkan sang Ibu untuk mengisahkan pengalaman gaibnya, tetapi tidak menuntaskan rasa penasaran pembaca.

Pertama, tidak menjelaskan ilmu dari sang ayah yang dipraktikkan.

Kedua, huruf “H”, mungkin pembaca awam banyak tidak paham. Huruf “H” dalam ilmu tarekat sering dikaitkan dengan konsep “hakikat”, yang berarti kebenaran atas realitas spiritual. Huruf H juga dapat dihubungkan dengan kata “hidayah” yang kita sama maklumi sebagai petunjuk atau bimbingan dari Allah.

BACA JUGA:  MERAH PUTIH

Relasi interpretasi dan pemaknaan huruf “H” sangat kontekstual. Bergantung pada siapa pelaku penderitanya. Dalam kisah “Ibu Gaib” jelas yang bersesuaian dengan pemaknaan huruf “H” adalah “hakikat”, kebenaran atau realitas spiritual. Ini menurut catatan saya.

Ketiga, “Saat itu dia merasakan kenikmatan yang luar biasa. Dia fana”. Kalimat ini sangat berkaitan sesuatu yang sangat sufistik. Mendiang Pak Ishak Ngeljaratan mengatakan, kematian itu adalah sebuah kenikmatan karena seseorang itu akan fana, hilang, mati; tidak kekal’ segala yang ada di dunia.

Karena sebuah kenikmatan, orang yang meninggal telah terbebas dari penderitaan (menurut versi Pak Ishak Ngeljaratan).

Tetapi menurut paham Islam, seseorang lepas dari penderitaan di hari kemudian bergantung pada apa yang dia “tanam” selama hidupnya.
“Fana” dalam ilmu sufi berarti “lenyap” atau “hilang”. (maaf saya bukan seorang sufi, hanya suka membaca buku). Fana adalah konsep yang merujuk pada proses spiritual ketika seseorang mengalami kehilangan kesadaran diri (ego) dan meleburkan diri dalam eksistensi Ilahi.