Rekreasi Sastra di Pantai Biru: MENCARI KEDALAMAN PUISI

Persoalan kecerdasan buatan atau AI juga tidak luput dari pembicaraan. Di era ketika teknologi dapat membantu menghasilkan teks dengan cepat, menurut Anil, seorang penulis tetap harus memiliki kemampuan dan pengalaman kreatifnya sendiri. AI semestinya ditempatkan sebagai pembanding, bukan sebagai pengganti proses kepenyairan. Seorang penulis tidak seharusnya menulis terlebih dahulu dengan bantuan AI lalu menjadikan hasilnya sebagai ukuran karya. Yang penting adalah membangun kemampuan membaca, mengalami, merasakan, mengolah imajinasi, kemudian melahirkan karya dari dalam dirinya sendiri. Teknologi boleh berkembang, tetapi kepenyairan tetap membutuhkan manusia dengan pengalaman dan kepekaan batinnya.

Pandangan tersebut mendapat penguatan dari Yudistira Sukatanya, salah seorang penulis senior yang hadir sebagai peserta. Ia menyampaikan sebuah peringatan sederhana tetapi penting, ‘Jangan menulis tanpa ilmu.’ Menurutnya, salah satu persoalan dalam dunia kepenulisan adalah keinginan untuk menghasilkan karya tanpa disertai kemauan memperluas pengetahuan. Seberapa baik pun seseorang menulis, pengetahuan tetap diperlukan untuk mempertajam kemampuan.

Sementara itu, Mahrus Andis, seorang kritikus sastra menilai Fosait telah dikenal secara nasional karena anggotanya merupakan para penulis yang aktif berkarya. Ia menunjuk hadirnya dua penulis nasional yang memberikan pengantar dalam antologi ‘Selayar Berlayar’ sebagai salah satu bukti bahwa karya komunitas tersebut telah memiliki jejaring yang lebih luas. Menurutnya, penyair perlu terus menemukan sesuatu yang baru, bukan hanya dalam persoalan diksi, tetapi juga dalam tema dan cara pengucapan.

BACA JUGA:  SORAYA: MENIKAHKAN PENGALAMAN, PEMIKIRAN, DAN KEHIDUPAN

Mahrus Andis juga menegaskan bahwa semua orang mungkin dapat menulis puisi, tetapi tidak semua tulisan yang disebut puisi otomatis memiliki kualitas sebagai puisi. Karena itu, pengetahuan teori sastra tetap dibutuhkan. Ia menilai puisi yang baik semestinya memiliki misteriusitas, sebuah ruang yang membuat pembaca tidak selesai hanya dalam sekali membaca. Puisi memberikan kesempatan kepada pembacanya untuk menemukan makna melalui penafsiran.

Pandangan lain datang dari Andi Marliah yang menyoroti pentingnya proses kurasi dalam penerbitan antologi. Menurutnya, apabila setiap penulis mengirim lima puisi, seorang kurator dapat memilih karya yang benar-benar memenuhi pertimbangan kepuitisan. Dengan demikian, antologi tidak sekadar menjadi kumpulan karya, tetapi juga memiliki standar kualitas yang lebih terjaga.

‘Selayar Berlayar’ bukan hanya sebuah judul antologi, tetapi metafora perjalanan kepenyairan, berlayar mencari pengalaman, mengolahnya menjadi kata, dan terus bergerak menjadi puisi yang lebih matang.Di sela-sela pembahasan, suasana sastra semakin hidup dengan pembacaan puisi oleh dua peserta, yaitu Dr. Fadli Andi Natsif dan Andi Rosnawatih.