Berbagai perayaan Maulid Nabi SAW, dilakukan menurut tradisi berbeda-beda. Hanya satu persamaannya, bahwa kitab yang dilisankan, disyairkan dalam helatan itu adalah kitab yang bernuansa sastra. Bahkan sastra dengan level tinggi, bukan karena medium sastrawinya, tetapi oleh obyek atau subyek yang disastrakan. Bahkan, para tangan-tangan mulia yang menuliskannya, tidak ada maksud untuk bersastra ria, selain hanya ‘menempuh jalan ibadah’ melalui cinta tak terperikan kepada manusia yang ditunjuk olehNya sebagai rahmat bagi segenap semesta ini, melalui ekspresi bahasa yang indah, dalam balutan makna inteleqensia yang tinggi (intelektual dan iman sejati).
Kitab Maulid Burdah, sebuah karya sastra tak tertandingi: bukan hanya karena keindahan struktur bahasanya, tetapi kandungan hikmah dan khasiat bagi yang membacanya.
Diawal qasidah Burdahnya, Imam Busyiri, mengadukan cinta: Ya Tuhanku, limpahkan selalu rahmat takzim dan keselamatan atas kekasihMu yang terbaik diantara seluruh mahluk… // Apakah diri yang dirundung nestapa karena cinta mengira bahwa api cinta dapat disembunyikan darinya. Diantara tetesan air mata dan hati yang terbakar membara.
Kitab Maulid ini dibaca oleh masyarakat dalam tradisi maulidan, telah hampir 10 abad, dari negeri sang Imam di Kairo dan Mesir ke negeri-negeri di Nusantara, hingga meluas ke negeri-negeri kaum muslim di dunia.
Dalam kisahnya, Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid al-Busyiri, sang pengarang Maulid Burdah, mengalami kelumpuhan sangat, dan nampak tidak ada lagi jalan sembuh. Ditengah menunggu takdir kematian, sang penyair menggubah pujian-pujian dan shalawat kepada kekasihNya, Muhammad SAW. Pada goresan bait terakhir dari Qasidahnya, sang Imam karena lelah, lalu tertidur. Dalam tidur itu, beliau didatangi sang kekasih yang dicintainya, Muhammad SAW. Rasulullah SAW, mengusap tangan dan tubuhnya yang tertimpah kelumpuhan, lalu mengenakan kepadanya Burdah (jubah kebesaran khalifah). Terbangun dari tidur, dengan seluruh keajibanNya, sang penyair mendapati seluruh tubuhnya pulih kembali.
Dengan perantara cinta kepada manusia paling mulia dan paling dekat denganNya ini, doa-doa dan harapan sembuh, dikabulkan olehNya, dengan begitu mudah.
Demikianlah keberadaan kitab-kitab ‘sastra’ maulid, yang ada dalam masyarakat Muslim. Yang dibaca setiap waktu dalam 12 kali putaran purnama, dalam merayakan kelahiran agung mahluk surgawi Muhammad SAW, menjadi wasilah bagi harapan-harapan baik dan cita-cita mulia bagi ummat Muhammad SAW, di dunia dan akhirat.
SM, Rabiul Awwal 1446 H.












