Religi  

Panggilan Tasawuf dalam Nada Kolak

Percakapan semakin dalam.

“Perjalanan batin itu panjang, Bang,” katanya.
“Dimulai dari tazkiyah—membersihkan diri.
Lalu takhalli—mengosongkan diri dari yang buruk.
Tahalli—mengisi dengan yang baik.
Sampai tajalli—cahaya itu mulai terbuka.”

Saya mengangguk.

“Setelah itu?” tanya saya.

“Ada mukasyafah, musyahadah”sampai fana.”

“Fana?” saya mengulang.

“Iye’. Luluhnya ego. Baru setelah itu baqa—hidup dalam kehadiran Allah.”

Saya diam.

Untuk beberapa detik, tidak ada suara. Hanya suara suara batin menyentuh pikiran.

“Om…” saya mulai bicara,
“kalau ruh dan nafs itu… apa bedanya?”

Om Awing langsung menjawab,
“Ruh itu dari Tuhan. Selalu cenderung ke kebaikan.
Kalau nafs… itu jiwa yang sudah bercampur dengan ego.”

Saya mengangguk.

“Nafsu itu ada tingkatannya,” lanjutnya.
“Mutmainah, lawwamah, amarah, mulhamah.”

Saya mencatat lagi.

Dalam hati saya berkata, ini seperti membuka peta yang selama ini saya cari, tapi tidak pernah saya temukan utuh.

Waktu berjalan tanpa terasa.

Lalu Om Awing berkata lagi,
“Bang Maman, kenali juga latifah dalam diri ta’,”

Saya menatapnya.

“Apa itu, Om?”

BACA JUGA:  PPIH Debarkasi Makassar Gelar Rakor Kedatangan Haji

“Itu titik-titik halus dalam diri. Ada tujuh. Dan masing-masing punya penyakit.”

Om Awing mulai menyebut satu per satu. Tentang latifah nafs, qolb, khofi, akhfa, sirr, ruh, hingga qolbi. Bersamaan dengan itu, om Awing menyebut penyakit-penyakitnya: was-was, malas, dusta, sombong, dendam, tamak, hingga cinta dunia.

Saya menelan ludah.

“Om…” saya berkata pelan,
“ini… berat sekali.”

Om Awing tersenyum.

“Makanya perjalanan ini tidak ramai-ramai. Ini perjalanan sendiri.”

Sepulang dari rumah itu, saya membuka kembali catatan dari tete/kakek saya 1 bulan lebih yang lalu di kamar hotel.

Saya tertegun.

Apa yang disampaikan Om Awing… hampir sama.

Saya menarik napas panjang.

Hari itu saya sadar, saya tidak hanya makan kolak.

Saya sedang diberi pelajaran tentang diri.

Tentang perjalanan menuju Tuhan yang tidak selalu harus dimulai dari kitab yang tebal, tapi bisa dari percakapan yang jujur.

Dan saya semakin yakin, tidak semua jurnalis memiliki kedalaman seperti itu. Mungkin ada. Tapi selama ini, saya belum menemukannya.

Kecuali Om Awing.

BACA JUGA:  Pemberian Reward Santri Teladan Pada Penutupan Daurah Ramadhan Pondok Pesantren Al Haris

Dari pertemuan itu saya belajar satu hal yakni
bahwa ilmu kadang datang dari arah yang tidak kita sangka.
Dan kadang, ia hadir… hanya karena kita mau melangkah.

Parang Tambung, 4/4/2026