Saya mengangkat wajah, sedikit heran.
“Maksudnya, Om?”
“Itu buku langka. Itu buku menurut saya sudah masuk dalam wilayah tasawuf modern.”
Saya diam.
“Masa sih, Om?” tanya saya pelan.
“Iye’. Tidak semua orang bisa menulis seperti itu. Kata-kata ta’ itu bukan sebatas kata. Ada rasa, ada perjalanan batin di situ.”
Saya menunduk, mengaduk pelan sisa kolak di piring yang sudah hampir finis.
Dalam hati saya berkata, saya saja tidak pernah mendefinisikan buku itu sedalam itu. Saya menulis sebagaimana penemuan batin dan spritual yang saya dapat dari tete/ kakek.
Percakapan mulai bergeser. Dari buku, masuk ke diri. Dari diri, masuk ke sesuatu yang lebih dalam.
Om Awing menatap saya, lalu berkata pelan,
“Bang Maman, sejatinya diri itu… ada dalam tubuh ta’.”
Saya terdiam sambil mengambil HP membuka aplikasi noted. Fokus.
“Ada Nur Muhammad—itu diri sejati.
Ada Nur Ikhsan—itu jiwa.
Ada Nur Hayat—itu hidup.
Ada Nur Dzatullah—itu tubuh nyawa…”
Saya mulai mencatat di noted HP.
“Pelan-pelan, Om…” kata saya.
Ia tersenyum.
‘Tenang ki’, ini memang tidak boleh cepat.”
Om Awing melanjutkan, menyebut satu per satu. Tentang qolbu, tentang nafas, tentang sirrullah keluar masuknya nafas yang ternyata bukan sebatas proses biologis, tapi jalan kesadaran.
Saya mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
Di satu titik, saya bertanya,
“Om… ini semua… kenapa jarang sekali dibahas?”
Om Awing tersenyum tipis.
“Karena tidak semua orang siap dengar. Dan tidak semua orang mau cari.”
Saya terdiam.
Kalimat itu sederhana, tapi seperti mengetuk sesuatu di dalam diri saya.
Percakapan semakin dalam.
“Perjalanan batin itu panjang, Bang,” katanya.
“Dimulai dari tazkiyah—membersihkan diri.
Lalu takhalli—mengosongkan diri dari yang buruk.
Tahalli—mengisi dengan yang baik.
Sampai tajalli—cahaya itu mulai terbuka.”
Saya mengangguk.
“Setelah itu?” tanya saya.
“Ada mukasyafah, musyahadah”sampai fana.”
“Fana?” saya mengulang.
“Iye’. Luluhnya ego. Baru setelah itu baqa—hidup dalam kehadiran Allah.”
Saya diam.
Untuk beberapa detik, tidak ada suara. Hanya suara suara batin menyentuh pikiran.
“Om…” saya mulai bicara,
“kalau ruh dan nafs itu… apa bedanya?”
Om Awing langsung menjawab,
“Ruh itu dari Tuhan. Selalu cenderung ke kebaikan.
Kalau nafs… itu jiwa yang sudah bercampur dengan ego.”
Saya mengangguk.
“Nafsu itu ada tingkatannya,” lanjutnya.
“Mutmainah, lawwamah, amarah, mulhamah.”
Saya mencatat lagi.
Dalam hati saya berkata, ini seperti membuka peta yang selama ini saya cari, tapi tidak pernah saya temukan utuh.
Waktu berjalan tanpa terasa.
Lalu Om Awing berkata lagi,
“Bang Maman, kenali juga latifah dalam diri ta’,”
Saya menatapnya.
“Apa itu, Om?”
“Itu titik-titik halus dalam diri. Ada tujuh. Dan masing-masing punya penyakit.”
Om Awing mulai menyebut satu per satu. Tentang latifah nafs, qolb, khofi, akhfa, sirr, ruh, hingga qolbi. Bersamaan dengan itu, om Awing menyebut penyakit-penyakitnya: was-was, malas, dusta, sombong, dendam, tamak, hingga cinta dunia.
Saya menelan ludah.
“Om…” saya berkata pelan,
“ini… berat sekali.”
Om Awing tersenyum.
“Makanya perjalanan ini tidak ramai-ramai. Ini perjalanan sendiri.”
Sepulang dari rumah itu, saya membuka kembali catatan dari tete/kakek saya 1 bulan lebih yang lalu di kamar hotel.
Saya tertegun.
Apa yang disampaikan Om Awing… hampir sama.
Saya menarik napas panjang.
Hari itu saya sadar, saya tidak hanya makan kolak.
Saya sedang diberi pelajaran tentang diri.
Tentang perjalanan menuju Tuhan yang tidak selalu harus dimulai dari kitab yang tebal, tapi bisa dari percakapan yang jujur.












