Religi  

Gema Takbir, Akar Peradaban Ilahiyah

Syafruddin Muhtamar (Penyusun Buku: As-shalatu Mikrajul Mukminin)
Syafruddin Muhtamar (Penyusun Buku: As-shalatu Mikrajul Mukminin)

Gemanya lahir, dan gemanya batin. Gema dalam batin, akan menyembelih hewan yang bersembunyi di balik kelambu kalbu. Gema dalam lahir, akan mengajari tubuh jasad, bergembira dalam hening surgawi di dunia.

Inilah akar peradaban paling purba dalam sejarah ummat manusia. Tuhan semesta alam, tidak menghancurkan sebuah peradaban, kecuali karena adanya ketidakpatuhan didalamnya. Lalu Dia, menggantinya dengan yang lebih baik.

Peradaban yang mendorong pada pelayanan dan pemenuhan pada hazrat nafs/ego/diri, adalah peradaban “ketidakpatuhan”. Kelak juga akan menemukan titik “punahnya” ditangan penciptanya sendiri, perlahan dan pasti.

Meski telah berlalu, talu bertalu gema takbir, tahmid dan tahlil itu, dari waktu yang hampir membumbung di ujung ubun-ubun, masih terngiang makna yang dibawanya besama: membesarkanNya dalam keberadaaNya, dan tidak patuh selain dari padaNya, lalu mensyukuriNya, menjadi tanah subur maknawi bagi peradaban ummat manusia.

Namun, seiring musim bergeser dari arah Barat menuju ke Timur, manusia terlena dalam mimpi indah dunia yang penuh pernak pernik nan gemerlap.

Adab duniawi makin mapan dan matang, namun adab ilahiyah, makin nampak di depan mata saja, sublimitasnya menguap bersama busa-busa liar nasf yang membuncah.

BACA JUGA:  Cara Mengamalkan Doa Nabi Yunus Agar Terlepas dari Kesulitan

Oh, Ibrahim… Makin jauh rasanya.

SM. 17/6/2024