Sisi Lain Layar Gawai: Membedah Kuasa Kapitalisme Digital

Estafet pembahasan kemudian dilanjutkan secara tangkas oleh Dr. Muhammad Yahya yang membedah transformasi sosial akibat globalisasi ekonomi dan budaya, lengkap dengan studi kasus komparatif yang kontras antara Asia Tenggara dan Eropa.

Menariknya, buku ini memberikan porsi khusus pada lokalitas yang sering luput dari radar sosiologi arus utama. Dr. Ahdan, misalnya, secara jeli menghadirkan analisis sosiologi komunikasi pada masyarakat maritim dan pesisir.

Di tengah dorongan modernisasi, bagaimana masyarakat bahari kita mempertahankan ruang hidup dan cara berkomunikasi mereka? Bab ini menjadi oase lokalitas yang sangat menyegarkan.

Ironi Digital dan Identitas Generasi Z

Dua isu yang paling menyita perhatian dalam buku ini adalah pembahasan mengenai identitas baru dan cengkeraman kapitalisme digital. Prof. Andi Tenri Machmud secara spesifik menyoroti bagaimana Generasi Z membentuk, merombak, dan menegosiasikan identitas sosial mereka di ruang publik yang kini bergeser ke ranah digital.

Identitas tak lagi tunggal; ia menjadi cair, hibrida, dan terkadang rentan konflik—sebuah isu multikulturalisme yang kemudian dibedah secara mendalam oleh Dr. Sudirman pada bab berikutnya.

BACA JUGA:  PGRI Kota Makassar Rapat Persiapan Pengukuhan Pengurus, Wali Kota Siap Hadir

Namun, ruang digital tidaklah netral. Nikolaus Beni, S.Sos, M.I.Kom secara tajam membongkar sisi kelam dari apa yang disebut sebagai kapitalisme digital.

Melalui fenomena “Uberisasi” dan gig economy, teknologi yang awalnya digadang-gadang membebaskan manusia, justru kerap melahirkan bentuk eksploitasi baru dan mempertegas sekat kelas pekerja modern.

Anatomi digital ini semakin lengkap ketika Assoc. Prof. Abdul Malik Iskandar mengulas sosiologi emosi—bagaimana algoritma media sosial mampu memanipulasi emosi kolektif, memicu hate speech, hingga menggerakkan radikalisasi.

Media kini bukan lagi sekadar penyampai pesan, melainkan agen perubahan yang, meminjam analisis Prof. Muh Yunus di Bab 8, memiliki kuasa penuh dalam melakukan framing dan agenda-setting ingatan publik.

Memperluas Cakupan: Ekologi dan Manajemen

Tidak berhenti pada isu layar gawai dan identitas, buku ini memperluas cakrawala sosiologinya pada isu eksistensial kemanusiaan: krisis iklim. Dr. Arda mengaitkan perubahan iklim dengan ketimpangan sosial dan keadilan ekologis, sebuah pengingat bahwa bencana lingkungan selalu memukul kelompok miskin terlebih dahulu.

Sebagai penutup, Dr. Kristian H.P. Lambe membawa sosiologi masuk ke ruang-ruang korporasi dan organisasi melalui sosiologi manajemen, memperlihatkan bagaimana struktur kekuasaan bekerja dalam pengambilan keputusan manajerial di era transformasi digital.