Sisi Lain Layar Gawai: Membedah Kuasa Kapitalisme Digital

Identitas tak lagi tunggal; ia menjadi cair, hibrida, dan terkadang rentan konflik—sebuah isu multikulturalisme yang kemudian dibedah secara mendalam oleh Dr. Sudirman pada bab berikutnya.

Namun, ruang digital tidaklah netral. Nikolaus Beni, S.Sos, M.I.Kom secara tajam membongkar sisi kelam dari apa yang disebut sebagai kapitalisme digital.

Melalui fenomena “Uberisasi” dan gig economy, teknologi yang awalnya digadang-gadang membebaskan manusia, justru kerap melahirkan bentuk eksploitasi baru dan mempertegas sekat kelas pekerja modern.

Anatomi digital ini semakin lengkap ketika Assoc. Prof. Abdul Malik Iskandar mengulas sosiologi emosi—bagaimana algoritma media sosial mampu memanipulasi emosi kolektif, memicu hate speech, hingga menggerakkan radikalisasi.

Media kini bukan lagi sekadar penyampai pesan, melainkan agen perubahan yang, meminjam analisis Prof. Muh Yunus di Bab 8, memiliki kuasa penuh dalam melakukan framing dan agenda-setting ingatan publik.

Memperluas Cakupan: Ekologi dan Manajemen

Tidak berhenti pada isu layar gawai dan identitas, buku ini memperluas cakrawala sosiologinya pada isu eksistensial kemanusiaan: krisis iklim. Dr. Arda mengaitkan perubahan iklim dengan ketimpangan sosial dan keadilan ekologis, sebuah pengingat bahwa bencana lingkungan selalu memukul kelompok miskin terlebih dahulu.

BACA JUGA:  Cucu Sultan Bima Raih Doktor di Unpad

Sebagai penutup, Dr. Kristian H.P. Lambe membawa sosiologi masuk ke ruang-ruang korporasi dan organisasi melalui sosiologi manajemen, memperlihatkan bagaimana struktur kekuasaan bekerja dalam pengambilan keputusan manajerial di era transformasi digital.

Sebagai sebuah karya kompilasi, buku yang diedit oleh Dr. Chuduriah Sahabuddin dan Dr. Rudi Hardi ini berhasil mempertahankan konsistensi mutu akademis di setiap babnya. Latar belakang penulis yang beragam justru memperkaya diskursus, membuat buku ini kaya akan perspektif teoretis yang beragam namun tetap inklusif.

Secara keseluruhan, Sosiologi Kontemporer bukan sekadar bacaan wajib bagi mahasiswa atau peneliti ilmu sosial.

Buku ini adalah cermin bagi siapa saja warga negara, praktisi, maupun pembuat kebijakan yang ingin memahami mengapa masyarakat kita hari ini bergerak dengan cara yang demikian rumit.

Buku ini berhasil mengingatkan kita: di tengah gempuran teknologi dan globalisasi yang impersonal, kemanusiaan yang inklusif harus tetap menjadi jangkar utama kita.***