Maya hanya terdiam dalam hati Maya menangis, rasanya perih terabaikan, sementara itu Reza tetap sibuk dengan ponselnya, Maya meninggalkan suaminya yang sibuk dengan ponselnya. Reza ngobrol, bercanda dan tawa lepas bersama ponselnya. Canda yang sudah lama tak pernah ia dengar lagi untuk dirinya. Maya menahan tangis, dadanya sesak, serasa ada ruang hampa yang dulu bahagia penuh cinta kasih kini hanya tersisa sunyi dan sepi, berusaha untuk menguatkan jiwanya berpura pura bahagia namun sangat menyakitkan untuk mengakui kerapuhan.
Hari itu Maya tiba-tiba deman, badannya menggigil, tak ada makanan yang disiapkan Reza pulang dan bertanya, kenapa tidak ada makanan, Resa melihat Maya terbaring di kamar, Resa panik dan hendak membawanya ke rumah sakit, namun Maya menolak, dengan suara lirih Maya berkata “ Aku tidak butuh Dokter, Aku hanya butuh untuk sejenak kau lihat.
Aku hanya butuh sehari saja kau perhatikan Aku, sejenak kau ajak bicara dengan lembut dan penuh kasih sayang seperti dulu.
Esok harinya Reza mengajak Maya untuk jalan-jalan dan makan bersama, namun Reza tak berubah tetap saja dengan santainya mengobrol bersama temannya.
Maya menguatkan dirinya, berpura pura bahagia di depan Reza meski Maya merasakan kesendirian di tengah keramaian, ia menangis tanpa suara, berpura pura bahagia dan itu sangat menyakitkan.
Mereka pulang ke rumah. Maya hanya melihat bunga anggrek di sudut ruangan bunga yang tak pernah bosan menjadi teman Maya sepanjang hari.
Maya berusaha berdamai dengan dirinya, keesokan harinya Maya bangun dan teryata rumah sudah sepi hanya melihat secarik kertas “Aku lembur”.
Maya bergegas mandi dan berkemas-kemas, ia menulis sticky note yang ditempel di cermin bukan untuk Reza tapi untuk dirinya sendiri “ Kamu Pantas untuk dilihat”.
Saat mengemasi koper, Maya berkata pelan, “ Reza… Aku pergi bukan karena aku benci Kamu, tapi Aku pergi karena Aku sudah kehilangan diriku sendiri.”
Maya mampir di taman bunga, dan untuk pertama kalinya ia mengunggah story “ Aku selalu Bahagia” beberapa saat ponselnya berbunyi, Reza : “ kok rumah sepi”. Maya membaca, tersenyum dan berbisik “ sekarang kamu baru sadar sepi”.
Ia menatap langit butir butir air mata satu persatu jatuh, tak ada lagi kata yang mampu Maya ucapkan. Hanya air mata yang melukiskan sunyi dan sepi.
“Sakit rasanya ditinggalkan, tapi lebih sakit masih bertahan tapi diabaikan, kadang pergi adalah cara yang terbaik untuk mengajari orang lain caranya kehilangan”, dan akhirnya pergi bukan karena ia berhenti mencintai tapi karena ia lelah ……………mencintai sendirian.













