2. Yudhistira Sukatanya
Yudhistira Sukatanya, juga dikenal sebagai Eddy Thamrin, adalah penulis dan sutradara teater senior asal Makassar, Sulawesi Selatan.
Ia aktif menulis artikel tentang pertunjukan seni lokal dan memulai karier menulis sejak SMA pada 1970-an, serta menjadi sutradara teater pertama kali pada 1978 dengan naskah Balada Pantai Kelabu karya Mochtar Abdul Rasul.
Ia pernah menjabat Ketua Harian Lembaga Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Sulawesi Selatan (LAPAKSS) periode 2018–2021, Pembina Dewan Kesenian Makassar, wartawan Tabloid Bintang Film di Jakarta, serta redaktur senior Majalah Seni dan Budaya Macca.
Penghargaan yang diraihnya termasuk Celebes Award Sulawesi Selatan (2022), Piagam Penghargaan Penggerak Literasi Sulawesi Selatan (2018), Kabar Makassar Awards (2020) untuk budayawan dan penulis sastra, serta Penghargaan Kategori Seni Budaya dari Pemerintah Kota Makassar (2022).
3. Muhammad Amir Jaya
Muhammad Amir Jaya adalah sastrawan dan penyair asal Sulawesi Selatan yang dikenal sangat produktif dalam berbagai genre, termasuk puisi, cerpen, novel, esai, dan karya anak‑anak.
Lahir di Tanaberu, Kepulauan Selayar, pada 9 September 1967 (ada sumber yang menyebut 1965, tetapi 1967 lebih luas dipakai).
Menyelesaikan pendidikan di IKIP Ujung Pandang (sekarang Universitas Negeri Makassar), dan kemudian menetap di Makassar serta aktif di dunia pers dan sastra.
Menghasilkan ratusan cerpen dan ribuan puisi, dengan puluhan buku antologi puisi, kumpulan cerpen, dan novel yang terbit sejak awal 2010‑an.
Mengusung tema religius dan tasawuf, misalnya dalam kumpulan puisi seperti “Puisi Rindu untuk Tuhan” dan “Engkau Api dan Aku Air”, yang menonjolkan nuansa spiritual dan perenungan batin.
Aktif sebagai pembaca puisi di acara‑acara sastra dan budaya, serta rutin membaca puisinya di Pro 4 RRI Makassar setiap minggu.
Sering diundang ke festival dan forum sastra, termasuk Festival Internasional Eight and Forum dan Festival Internasional Dragon Boat pada 2016.
Menjabat sebagai Ketua DPP Advokasi dan Pengembangan SDM di Ikatan Penulis Indonesia Makassar (IPIM) Sulsel, serta Ketua Ikatan Penulis Muslim Indonesia (IPMI) Sulsel. Juga menjadi Presiden Forum Sastra Indonesia Timur (Fosait) dan aktif membina komunitas penulis serta gerakan literasi di Sulawesi Selatan.
Secara umum, Muhammad Amir Jaya dikenal sebagai penyair relijius, cerpenis tempo, dan wartawan sastra yang menggantungkan hidup penuh dari menulis.
Ia memadukan dimensi sosial, spiritual, dan budaya Bugis–Makassar dalam puisi dan prosanya, sehingga menjadi salah satu sosok sentral dalam dunia sastra kontemporer Sulawesi Selatan.













