Bincang Buku “Arung Jeram Pernikahan”, Anna Ruswan Latuconsina Ajak Publik Merawat Keluarga Melalui Dialog

Ia mengingatkan pentingnya membangun keluarga yang sehat sebagai fondasi terciptanya masyarakat yang beradab.

Ratu Hemas juga memberi apresiasi kepada Anna Latuconsina yang tak lelah berjuang dan patah semangat dalam menyuarakan dan memperhatikan isu kekerasan perempuan dan anak selama empat periode menjadi anggota DPD RI untuk Maluku.

br

Sesi bincang buku berlangsung interaktif dengan dipandu moderator Dra. Rita Sri Hastuti, M.I.Kom, seorang wartawan dan penulis senior. Hadir sebagai narasumber Prof. DR. Haryatie Abdurrahman, akademisi dan peneliti dari Selangor University Malaysia, serta DR. Maria Josephine Kumaat Mantik, S.S., M.Hum., akademisi Universitas Indonesia yang menekuni kajian gender dan sastra.

Bersama penulis, para narasumber mengulas buku ini dari berbagai perspektif, mulai dari keluarga, psikologi, sosial, hingga nilai-nilai kemanusiaan.

Mereka menilai bahwa buku tersebut tidak hanya berbicara tentang relasi suami-istri, tetapi juga menghadirkan refleksi mengenai kesabaran, keteguhan, dan kemampuan pasangan dalam menghadapi “jeram” kehidupan secara bersama.

Diskusi berlangsung interaktif ketika peserta diberi kesempatan mengajukan pertanyaan dan berbagi pengalaman. Berbagai pandangan muncul mengenai pentingnya membangun keluarga yang sehat sebagai fondasi masyarakat yang kuat.

BACA JUGA:  Shantined : Bagaimana Proses Kreatif Menulis Sampai Jadi Buku Kumpulan Puisi dan Cerpen

Pencegahan Kekerasan Rumah Tangga

Peserta dari berbagai organisasi dan komunitas aktif mengajukan pertanyaan mengenai upaya pencegahan kekerasan dalam rumah tangga, pendidikan keluarga, serta pentingnya membangun relasi yang setara antara suami dan istri.

Menjelang akhir diskusi, Anna Ruswan Latuconsina menyampaikan tanggapannya dengan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak lagi menganggap kekerasan sebagai persoalan privat, melainkan persoalan kemanusiaan yang harus dicegah bersama.

Anna juga menyampaikan harapannya agar buku Arung Jeram Pernikahan dapat menjadi inspirasi bagi pasangan, keluarga muda, maupun masyarakat luas dalam memandang pernikahan sebagai proses panjang yang membutuhkan cinta, pengertian, dan kerja sama, bukan sekadar ikatan formal.

Suasana acara semakin hidup ketika penyair Nuyang Jaimee -yang saat itu juga bertugas sebagai Master of Ceremony-membacakan puisi berjudul “Suara Perempuan” mengawali acara ramah tamah.

Pembacaan puisi tersebut menjadi jembatan emosional yang memperkuat pesan bahwa sastra tidak hanya menghadirkan keindahan bahasa, tetapi juga menjadi suara bagi mereka (perempuan dan anak-anak) yang selama ini dibungkam oleh kekerasan.

BACA JUGA:  Museum Benyamin Sueb akan Digelar Baca Puisi Penyair Perempuan Merah Putih

Bincang buku Arung Jeram Pernikahan bukan sekadar membicarakan sebuah karya, tetapi menjadi ruang refleksi bersama bahwa keluarga yang harmonis hanya dapat dibangun melalui penghormatan terhadap martabat manusia, kesetaraan, dan penolakan terhadap segala bentuk kekerasan.

brbr
brbr
br