Menulis Sejarah Rakyat sebagai Sebuah Gerakan

Muhammad Alif Hasyudi dari komunitas Diskusi Buku Bareng mengatur dinamika diskusi sebagai moderator. Komunitas ini merupakan bagian dari Komunitas Jalan Bareng,
Ketua Komunitas Diskusi Buku Bareng, Oskar, sedangkan Ketua Komunitas Jalan Bareng, adalah Payyad. Keduanya hadir sepanjang kegiatan.

Rusdin Tompo yang diundang sebagai pembahas buku mengatakan, sesungguhnya kita merupakan bagian dari sejarah, menjadi saksi sejarah, dan merupakan pelaku sejarah. Bahkan, jangan-jangan, kata penulis dan penggiat literasi itu, kita menjadi korban dari sejarah.

“Bahasa dan pilihan diksi yang ditulis dalam sejarah, terkandung relasi kuasa, stereotipe, dan diskriminasi. Itu bukti bahwa kita jadi korban sejarah. Apalagi jika sejarahnya ditulis secara manipulatif, hanya fakta-fakta yang menguntungkan, ditulis sebagai legitimasi,” terang Koordinator Satupena Sulawesi Selatan itu.

Dia salut pada prakarsa yang dilakukan Tim Historiografi Rakyat yang mendokumentasikan pengalaman warga biasa, yang sesungguhnya terhubung dengan banyak peristiwa sejarah dan praktik kebudayaan.

Rusdin Tompo lantas berbagi pengalaman menulis kisah-kisah hidupnya di masa kanak-kanak, sebagai jurnalis, aktivis hak anak, dan penggiat literasi. Ditekankan, yang paling penting dari penulisan sejarah warga atau rakyat, adalah jujur pada fakta dan informasi yang ada.

BACA JUGA:  Mengenal K.H. Muhammad Yahya Melalui Buku 'Manaqib'

Riset pada pengalaman lampau, dengan mengkonfirmasi pada orang, teman, orangtua, dan mereka yang dijadikan informan tetap perlu dilakukan. Argumentasi harus dibangun berdasarkan premis yang terukur, tetap logis, dan dapat menggambarkan hubungan sebab akibatnya.

“Saya malah mendorong setiap orang menulis sejarah dirinya, sebagai bentuk penguatan identitas dan penegasan dirinya yang otentik,” imbuh Rusdin Tompo menutup bahasannya. (*)