Jiwa Makassar Dg.Mangalle dan pasukannya muncul. Mereka mengamuk. Seribu orang anggota pasukan Siam dan 17 perwira Eropa tewas. Di pihak pasukan Makassar, hampir semuanya tewas, termasuk Laduluk Dg.Mangalle. Sebanyak 55 orang Makassar yang ditangkap, semuanya luka-luka. Termasuk dua anak Dg.Mangalle, Daeng Ruru yang berusia 14 tahun dan Dg.Tulolo, 12 tahun, semuanya lahir di Siam dan mahir bahasa Siam.
“Menurut David Wyatt (“Thailand History –Early up to 1982), mereka yang ditawan hidup-hidup itu diberikan kepada harimau. Sedangkan putra Dg.Mangalle dikirim ke Prancis untuk diserahkan kepada Raja Louis XIV,” tulis HD Mangemba yang mengutip tulisan Arenawati, Sastrawan Negara Malaysia kelahiran Jeneponto dalam tulisannya yang dimuat harian “Pedoman Rakyat” 22 September 1983.
Saat terjadi pemberontakan itu, di Siam terdapat duta besar Raja Louis XIV di ibu kota Kerajaan Siam. Dg.Ruru dan Dg.Tulolo dibawa ke Prancis dan disuruh menghadap Raja Louis XIV. Raja manganugerahkan pensiun seumur hidup kepada keduanya, seperti lazim dilakukan untuk para bangsawan yang tidak mempunyai pendapatan. Pemerintah Pranvis juga membiayai semua pelajarannya.
Sejak Oktober 1687, mereka diajari bahasa Prancis oleh Garvaise dengan pengantar bahasa Siam. Keduanya dimasukkan ke sekolah menengah yang terkenal di Paris dan dijadikan Kristen. Daeng Ruru pun berganti nama menjadi Louis Pierre de Macassart, sementara adiknya, Dg.Tulolo bersalin nama menjadi Louis Dauphin de Macassart .
Pada tanggal 1 Mei 1690, Daeng Ruru menjadi kadet angkatan laut di Brest, Prancis Barat yang menjadi pangkalan terpenting angkatan laut Prancis hingga kini. Per 1 Januari 1691, dia diangkat menjadi letnan dan pada 1692 menjadi kapten dalam usia 20 tahun. Dia tewas pada tahun 1708 dalam usia 36 tahun saat berada di depan Kota Havana (Kuba) dalam eskader Laksamana Ducasse untuk melawan Angkatan Laut Inggris.
Adiknya, Daeng Tulolo menjadi kadet Angkatan Laut Prancis pada tahun 1699. Sebelumnya dia masuk angkatan darat. Dia diangkat menjadi letnan pada tahun 1712. Ia meninggal di Kota Brest 30 November 1736 dalam usia 62 tahun.
Menurut Garvaise, Daeng Mangalle adalah adik Sultan Hasanuddin. Namun setelah HD Mangemba meneliti susunan silsilah raja-raja Gowa dan Tallo, tidak menemukan nama Daeng Mangalle sebagai saudara Sultan Hasanuddin. Yang ada adalah putra Sultan Hasanuddin dari perkawinannya dengan I Lokmok Tobo yang berasal dari Majanneng bernama I Aduluk Daeng Mangalle, adik dari I Maninrori Karaeng Galesong. Kakak Dg, Mangalle ini lari ke Jawa ingin membantu raja Jawa, tapi akhirnya bersekutu dengan Trunojoyo yang memberontak melawan Amangkurat I. Maninrori lahir Maret 1655, sedangkan I Aduluk Dg.Mangalle lahir setahun kemudian, 1656.












