Jasa besar orang Melayu ini adalah penggunaan bahasanya yang kemudian diangkat sebagai bahasa nasional Indonesia sekarang. Banyak orang bertanya, mengapa bukan bahasa Jawa yang memiliki penutur jauh lebih banyak tidak dipilih sebagai bahasa nasional Indonesia?
Dalam catatan disebutkan, bahasa Melayu sudah merupakan “lingua franca” (bahasa pengantar) antarsuku bangsa di Nusantara pada masa lalu. Diaspora Melayu ini secara tidak langsung “mengajarkan” bahasa mereka pada suku-suku tempat mereka bertandang.
Bahasa Melayu tidak mengenal stratifikasi/tingkatan, seperti yang dikenal dalam bahasa Jawa (ngoko, kromo, dan sebagainya). Strukturnya yang sederhana memudahkan masyarakat pengguna lebih mudah berkomunikasi dengan masyarakat lainnya.
Bahasa Melayu sudah digunakan pada masa pemerintahan masa lalu, seperti pada saat Kerajaan Sriwijaya, sehingga memperoleh pengaruh bahasa lain, seperti bahasa Sansekerta, bahasa yang digunakan dalam Kitab Wedha (agama Hindu).
Juga bahasa Arab yang masuk melalui para pedagang Arab lewat Gujarat. Bahasa Indonesia juga memperoleh pengaruh bahasa asing lain, seperti Belanda pada masa penjajahan Belanda, Portugis, Spanyol, dan sebagainya.
Bahasa Melayu melalui diasporanya, pun menyebarkan kebudayaan. Misalnya kita mengenal lagu berirama Melayu yang pada tahun 60-90-an terkenal dengan Orkes Melayu.
Kita masih ingat Rhoma Irama dengan Orkes Melayu “Sonata”-nya. Lagu berirama Melayu dengan suara yang mendayu-dayu bertransformasi menjadi lagu dangdut yang tidak lain adalah lagu Melayu yang berirama pop.
Pada masa pemerintahan Tunipalangga ini juga dibuat timbangan, dacin, anak timbangan dan sejenis takaran yang disebut gantang (untuk beras ukuran 4 liter) dengan bahan tembaga.
Hubungan Kerajaan Gowa dengan pihak luar semakin kuat. Banyak perantau dan orang asing menetap di Kerajaan Gowa yang membuat kerajaan ini mengalami kemajuan dan perkembangan yang pesat. Perdagangan makin maju dengan posisi bandar (pelabuhan) yang sangat strategis.
Islam masuk ke Kerajaan Gowa di bawah pemerintahan Raja Gowa XV, I Mangerangi yang kemudian dikenal dengan nama Sultan Alauddin.
Ia diislamkan oleh Abdul Makmur Khatib Tunggal yang kemudian lebih dikenal dengan nama Datok ri Bandang, dari Minangkabau. Sebelumnya Raja Tallo sebagai Mangkubumi (Perdana Menteri) telah pula memeluk agama Islam.
Di tengah zaman keemasan yang dialami Kerajaan Gowa tersebut, pada tahun 1596, Cornelis de Houtman, orang Belanda pertama sampai di Pelabuhan Banten. Belanda ini kemudian bersengketa di Indonesia dengan Portugis, terutama di laut pantai Jawa Barat. Kehadiran Belanda ini diikuti pendirian “Verenigde Oost Indische Compagnie” (VOC), lebih dikenal dengan nama Kompeni.
Kehadiran Kompeni membuat keadaan di Indonesia, khususnya di Kerajaan Gowa mulai dilanda konflik. Belanda menerapkan politik “devide et impera” (memecah dan menguasai).
Tidak mampu mengalahkan Kerajaan Gowa, Belanda tidak kehabisan akal. Dia bersekutu dengan Kerajaan Bone yang saat itu dipimpin La Tenritatta yang lebih dikenal dengan Arung Palakka.
Peperangan satu lawan dua ini akhirnya membuahkan Perjanjian Bungaya (1667) yang memaksa Gowa harus mengakui monopoli dagang VOC dan menyerahkan wilayah kekuasaannya, termasuk Bone di bawah Arung Palakka, membangun benteng Fort Rotterdam, Gowa membayat ganti rugi perang,, dan menutup pintu Gowa terhadap pedagang asing kecuali VOC.
Sultan Hasanuddin menggantikan ayahnya Sultan Muhammad Said yang membawa Kerajaan Gowa pada akhir keemasannya, berkuasa dan berperang dengan Kompeni yang dibantu Arung Palakka.












