Kembali Jadi Kota Dunia & Dg.Mangalle

Kota dunia
Peserta diskusi buku Sejarah Makassar foto bersama (foto istimewa)

Perang tidak sebanding ini mengakibatkan benteng utama Sombaopu jatuh ke tangan Belanda pada tanggal 24 Juni 1669.

Lima hari kemudian, 29 Juni 1699, Sultan Hasanuddin mengundurkan diri dari pemerintahan. Dia menyerahkan takhta kerajaan kepada putranya, Amir Hamzah yang masih belia, 13 tahun. Pada tanggal 12 Juni 1670 Sultan Hasanuddin wafat dalam usia yang boleh dikatakan masih muda, 39 tahun.

Begitulah anomali Makassar Menuju Kota Dunia perlu diluruskan. Seharusnya, Makassar kembali menjadi kota dunia, karena pada pertengahan abad XVII sudah menjadi kota dunia!

Pierre dan Dauphin de Macassart

Dalam diskusi buku ini nama Dg. Mangalle termasuk yang menjadi isu sentral. Ketika mendengar nama ini disebut-sebut, bahkan diharapkan menjadi wacana yang akan terus diaktualisasikan ke depan, saya teringat pada tahun 2002. Pada tahun itu saya bersama Hasrullah mengedit sejumlah naskah yang ditulis oleh Hamzah Daeng (HD) Mangemba yang kemudian saya beri judul “Takutlah Pada Orang Jujur”.

Judul buku ini merupakan salah satu dari sejumah ‘label’ tulisan di dalam buku yang kemudian setelah terbit memiliki tebal 325 halaman. Buku ini diterbitkan Pustaka Pelajar Yogyakarta & Lepphas Unhas dan ludes terjual tanpa sempat masuk toko buku di Makassar.

BACA JUGA:  Piala AFF 2024: Timnas Indonesia Tertahan di Solo

Salah satu judul tulisan yang memiliki relasi dengan diskusi buku di Restoran Hotel Claro yang difasilitasi oleh Wakil Ketua DPRD Makassar, Anwar Faruq, S.Kom, itu adalah “Laduluk Daeng Mangalle Menantang Raja Arai di Ayuthia (Siam)”.

Informasi tentang Dg.Mangalle memang berasal dari buku tulisan Nicolas Garvaise itu yang dikutip Christian Pelras dalam ceramahnya di Fakultas Hukum Unhas pada tahun 1977. Di dalam buku itu ditulis, Dg.Mangalle (“Maale”) meninggalkan Gowa karena tidak senang dengan gencatan senjata perang Makassar tahun 1669 yang menggiring Gowa harus menaati isi Perjanjian Bungaya (1677).

Awalnya, Dg.Mangalle ke Jawa. Lantaran terus diuber Belanda, ia akhirnya menyingkir dan bermukim di Ayuthia, ibu kota Siam. Di tempat ini, Dg.Mangalle dan pengiringnya diberi tanah untuk membangun permukiman. Mereka juga membuka areal persawahan melanjutkan tradisi bertani di tanah leluhurnya. Malah Dg.Mangalle diangkat sebagai “Doeja Paedi” (bahasa Thai, menteri keuangan).

Pada masa pemerintahan Sultan Abdul Jalil (1677-1709), pengganti Sultan Hasanuddin, hubungannya dengan Dg.Mangalle terjalin baik. Perdagangan antara Siam dan Makassar pun lancar kembali. Namun pada tahun 1636, Dg.Mangalle bergabung dengan komplotan untuk menggulingkan Raja Siam, Raja Narai (1677-1709) di Ayuthia. Raja ini mau digantikan oleh adiknya dengan alasan untuk mengurangi pengaruh “Bunnak” (keluarga Parsi) dan Paulkoa Constantino (orang Yunani) dalam kerajaan.

BACA JUGA:  Antara Ibu dan Profesi

Kelompok yang berkomplot adalah beberapa pembesar istana dibantu tiga suku pendatang di Ayuthia. Cam, Melayu, dan Makassar.

Rencana komplotan ini ternyata bocor, Perdana Menteri berhasil mencegahnya sebelum terjadi pemberontakan. Para pemimpin komplotan diperintahkan datang menghadap raja untuk minta maaf. Dg.Mangalle menolak permintaan itu. Dia tetap mengangkat senjata dan melanjutkan pemberontakan.

Setelah beberapa lama perundingan yang gagal tanpa hasil, Raja Siam menyerang orang Makassar. Walaupun Raja Siam mengerahkan pasukan berkekuatan 10.000 orang dan dibantu 40 perwira Eropa (Prancis, Inggris, dan Portugis), Dg.Mangalle dan pasukannya yang hanya beberapa ratus orang, tidak mau menyerah dan minta maaf seperti yang disyaratkan. Dg.Mangalle tetap bertahan selama beberapa hari.