Gaukang ri Lakkang, Cara Membangun Kesadaran Kritis Warga dengan Menulis

“Coba ingat-ingat lagi cerita nenek, mitos, atau pappasang yang pernah disampaikan. Temui dan ajak ngobrol tokoh-tokoh kunci, antara lain pelaku sejarah, saksi mata, tokoh masyarakat, dan lain-lain. Bisa jadi, pengalaman masa kanak-kanak banyak menyimpan materi tulisan yang menarik dibagikan,” kata saya.

Di Lakkang, berdasarkan pengalaman saya memasuki kampung ini pertama kali pada bulan Maret 2011, ada banyak materi yang bisa ditulis.

Sungai, pohon nipah, pohon bambu, kuliner pallu unti-unti, rupabumi/toponimi sejarah penamaan Lakkang, kearifan lokal tentang bonang dan konda, bunker peninggalan tentara Jepang, dermaga, moda transportasi jolloro dan pincara, semuanya merupakan ide tulisan yang menarik.

Peserta yang dominan merupakan Gen Z, memberi informasi bahwa ada tempat di Lakkang yang disebut Lakkang Caddi, lokasinya dekat Pampang. Lokasi ini bagai hidden gem yang menantang untuk dijelajahi, juga tentu saja untuk ditulis oleh warga sendiri.

Perubahan-perubahan yang terjadi di pulau yang berada di belakang Kampus Unhas ini, merupakan laboratorium sejarah yang perlu diberi catatan kritis-reflektif, sekaligus tawaran solusi dari sudut pandang warga, guna memperkuat entitas dan identitas mereka sebagai orang Lakkang. (*)

BACA JUGA:  Pemberontakan di Masjidil Haram