Diskusi Buku Discription Historiqur du Royume de Macacar (1688) Ungkap Sejarah Mengejutkan

Discription Historiqur du Royume de Macacar
Dari kiri ke kanan: Rahman Rumaday, Yudhistira Sukatanya, Prof Mardi Adi Armin, Anwar Faruq, Prof Muhammad Asdar dan Prof Kembong Daeng.

“jangan tinggalkan kami Pak Dewan,” pinta Awing.

Lewat diskusi buku Sejarah Kerajaan Makassar: Discription Historiqur di Royume de Macacar, karya Nicolas Garvaise, yang dipelopori oleh Komunitas Anak Pelangi (K-Apel) dan Kampus Lorong K-Apel dihadiri oleh para pencinta sejarah, akademisi, dan pegiat budaya, politisi dan wartawan berkumpul. Bukan sekadar membedah isi buku, tetapi menyusuri ulang identitas Makassar yang pernah berdiri sebagai kerajaan besar di Nusantara pada abad ke-17.

Pada diskusi Buku Discription Historiqur di Royume de Macacar (Sejarah Kerajaan Makassar) juga diserahkan buku oleh pengalihbahasa Prof Mardi Adi Armin kepada, Prof Muhammad Asdar, Prof. Kembong Daeng, Yudhistira Sukatanya dan Anwar Farouk

Sekilas Buku Discription Historiqur di Royume de Macacar (Sejarah Kerajaan Makassar)

Buku Discription Historiqur di Royume de Macacar (Rincian Sejarah Kerajaan Makassar) yang diterbitkan pertama kali di Perancis tahun 1684 ditulis oleh seorang penulis berkebangsaan Perancis bernama Nicolas Gervaise.

Edisi pertama buku ini diterbitkan oleh penerbit Perancis, Grand Saint Grégoir milik pustakawan Hillaire Foucault di Paris pada tahun 1688, kemudian edisi kedua diterbitkan oleh penerbit Jerman, Erasmus Klinkius di Regensburg pada tahun 1700 dengan beberapa tambahan data.

BACA JUGA:  Pejuang Hamas Sergap Konvoi Militer Israel di Gaza

Edisi berbahasa Inggris terbit di London pada tahun 1701. Buku ini terbit 19 tahun setelah berakhirnya perang antara Kesultanan Gowa di bawah pimpinan Sultan Hasanuddin melawan VOC (1666-1669).

Buku Pertama.

Buku pertama dari Discription Historiqur di Royume de Macacar (Rincian Sejarah Kerajaan Makassar) menceritakan tentang situasi negara, buah-buahan, tanaman, hewan, sungai dan kota-kota besar, yang diawali dengan penjelasan singkat mengenai peperangan melawan Toraja oleh seorang Raja Makassar yang oleh penulis disebut “Craen Biset“- yang kemungkinan merujuk ke Sultan Ali yang bergelar Karaeng ri Bisei yang merupakan penguasa Gowa tahun 1674-1677 (orang Eropa menyebut Gowa sebagai Macassar).

Dia menceritakan, antara lain mengenai buah sukun yang dia sebut “bacaran” (Makassar: Bakara) sebagai makanan penting bagi orang Toraja, dan perdagangan yang dilakukan melalui Mamuju, tepung atau bahan yang digiling, menanam opium, juga membubuhi racun pada anak panah sumpitan yang didapatkan dari pohon tertentu. Dalam buku itu juga diberikan beberapa nama buah dalam bahasa Makassar; onti (pisang), lame (pisang), sikapa’ (ubi kelapa) dan tentang bunga mawar yang disebut bungajê’nê mawara (bunga air mawar), yang dapat dijadikan parfum dan pengharum kuburan, sehingga disebut juga bunga Jera (bunga orang mati).