Diskusi Buku Discription Historiqur du Royume de Macacar (1688) Ungkap Sejarah Mengejutkan

Discription Historiqur du Royume de Macacar
Dari kiri ke kanan: Rahman Rumaday, Yudhistira Sukatanya, Prof Mardi Adi Armin, Anwar Faruq, Prof Muhammad Asdar dan Prof Kembong Daeng.

Sementara itu, sejarawan muda, Adil Akbar Ilyas, menyebut buku ini sebagai “simpul sejarah.” dan juga mengkonfirmasi buku-buku sejarah yang dituliskan kemudian.

Baginya, Garvaise tidak hanya menulis tentang raja-raja Gowa yang menikah lintas budaya, tetapi juga mengisahkan jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada 1511, gelombang pengungsian orang Melayu, hingga kuliner Makassar yang sejak dulu terbuka pada pengaruh luar.

“Makassar bukan menuju kota dunia,” kata Adil, “tetapi kembali ke kota dunia.” Bukti paling nyata adalah kehadiran orang-orang dari berbagai bangsa sejak ratusan tahun silam.

Menariknya, diskusi juga mengungkap fakta bahwa gelar “Andi” yang kini dikenal luas justru baru dikenal hingga 1906, Kerajaan Gowa masih menggunakan gelar Daeng. Sejarah, sekali lagi, mengajarkan bahwa identitas tak pernah beku—ia bergerak mengikuti zaman.

Sebelumnya, Ketua DPRD Makassar, Anwar Faruq, S.Kom.,M.M dalam sambutan pembukaannya mengaku bangga bisa hadir.

“Aura kebesaran Sulawesi Selatan terasa di ruangan ini,” ucapnya. Ia menyinggung bahwa banyak arsip sejarah Makassar dan Bone justru tersimpan di luar negeri. Pemerintah daerah, katanya, berkomitmen mendukung upaya menggali kembali sejarah kota.

BACA JUGA:  Kehadiran Presiden Jokowi di Tanzania Disambut Upacara Kenegaraan

Bahkan ia menanggapi permintaan Prof. Mardi dan Prof Kembong Daeng agar bahasa dan aksara lontara dibudayakan kembali. Anwar Faruq menyatakan siap menjembatani ke Wali Kota Makassar, bahkan membuka peluang muatan lokal tentang penggunaan bahasa lontara di sekolah dasar dan menengah diajarkan kembali..

“Termasuk Bandara pun diusulkan seharusnya bertuliskan lontara, agar kita tahu sedang berada di mana,” kata Anwar menjawab permintaan Prof. Mardi.

Sementara itu, Rahman Rumaday, Founder Komunitas Anak Pelangi (K-apel) dan Kampus Lorong K-apel, menyebut diskusi ini sebagai bagian dari agenda panjang merawat ingatan kolektif, meski pelaksanaannya baru bisa terlaksana di bulan Desember.

“Bagusnya buku yang diterjemahkan oleh Prof. Mardy, terkoneksi dengan beberapa buku seperti Buku Arupalakka ,” ujar Dahlan Abubakar, penulis buku dan wartawan Pedoman Rakyat.co.id.

Diskusi yang dipandu Arwan D Awing, Direktur Bugis Pos Grup, yang menyebut buku ini sebagai karya pertama yang secara khusus membahas sejarah Makassar dari sudut pandang penulis asing abad ke-17.

Ada catatan singkat yang disampaikan moderator sebelum menutup diskusi yang menjadi pekerjaan rumah bagi peserta diskusi yakni perlu pelestarian bahasa dan budaya daerah. Melakukan pengkajian sejarah lebih mendalam tentang apa dan siapa itu Daeng Mangalle. Pembuatan buku tentang Makassar kembali ke kota dunia. Dan juga memberikan pesan kepada Anwar Faruq sebagai wakil rakyat dan penyambung lidah ke pemerintah kota Makassar.