Raker Unismuh 2026: 75 Prodi Dibenahi, Fokus ke Teaching University

“Kita benahi dulu yang kita sudah miliki,” tegasnya.

Setiap prodi diminta menentukan skala prioritas masing-masing. Hasilnya akan menjadi dasar rasionalisasi program dan penganggaran di tingkat universitas.

Rakhim menyebut 81,32 persen program studi Unismuh saat ini telah berada pada rentang akreditasi Baik hingga Unggul. Masih terdapat 14 program studi atau sekitar 18,68 persen yang membutuhkan pendampingan lebih intensif, khususnya bagi prodi baru yang masih terakreditasi minimal.

Unismuh menargetkan ketika memasuki proses akreditasi institusi pada 2029, prodi-prodi tersebut minimal telah mencapai peringkat Baik Sekali.

Dari sisi internasionalisasi, Rektor menyebut Unismuh telah membangun kerja sama dengan mitra di 33 negara. Ia meminta kerja sama tersebut terus dipelihara, bukan berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman, melainkan menghasilkan kegiatan yang berjalan secara berkelanjutan.

*BPH Siapkan Empat Pilar Infrastruktur*

Jika Rektor menekankan transformasi akademik dan kelembagaan, Ketua BPH Unismuh Makassar Prof Gagaring Pagalung menempatkan sarana dan prasarana sebagai ekosistem pendukung transformasi tersebut.

Ia menggariskan empat arah pengembangan infrastruktur Unismuh.

BACA JUGA:  Sekum PGRI Sulsel Nyalakan Semangat Peserta Porsenijar

Pertama, digital and smart infrastructure, antara lain melalui modernisasi ruang kuliah interaktif, pemanfaatan teknologi untuk efisiensi energi, serta sistem pengelolaan aset secara digital.

Kedua, Green Campus and Sustainable Campus, melalui pengembangan ruang terbuka hijau, pengelolaan air dan energi, serta fasilitas yang ramah lingkungan.

Ketiga, Integrated Academic and Research Facilities, terutama melalui penguatan laboratorium terpadu, pusat riset, dan co-working space yang memungkinkan interaksi akademik lintas fakultas.

Keempat, Student and Community Center, berupa penguatan fasilitas olahraga, asrama, serta pusat kegiatan Al-Islam Kemuhammadiyahan bagi mahasiswa.

Gagaring menyebut pembangunan laboratorium terpadu di sekitar kawasan rektorat diproyeksikan segera memasuki tahap pembangunan.

“Alhamdulillah, persiapannya sudah. Insyaallah dalam satu-dua pekan ini sudah mulai proses pembangunan laboratorium terpadu,” ujarnya.

Pengembangan kawasan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan juga akan dilanjutkan. BPH dan Rektorat bahkan mulai memikirkan kawasan pendukung bagi mahasiswa kedokteran yang tidak hanya menyediakan tempat tinggal, tetapi sekaligus menjadi ruang pembinaan profesional dan spiritual.

*Infrastruktur Bukan Sekadar Gedung*

BACA JUGA:  Universitas Patompo Datangkan Dosen UNHAN Jadi Dosen Tamu

Gagaring menegaskan pembangunan fasilitas kampus tidak boleh dilihat hanya sebagai proyek fisik.

Setiap pembangunan merupakan investasi pendidikan dan harus mengikuti prinsip value for money, akuntabilitas finansial, legalitas aset, dan keberlanjutan.

Ia menyebut laporan keuangan Unismuh dalam beberapa tahun terakhir telah diaudit kantor akuntan publik dan memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Pengembangan ke depan juga diarahkan melalui kemitraan strategis, optimalisasi aset, serta peningkatan pendapatan non-UKT.

BPH juga mendorong seluruh unit menerapkan data-driven planning dalam mengusulkan pengembangan fasilitas. Pada saat yang sama, pimpinan fakultas dan unit diminta membangun sense of ownership atau rasa memiliki terhadap aset universitas.

“Kata kuncinya ini merawat aset. Jangan sampai karena merasa bukan berada di fakultas atau unit kita, cara merawatnya menjadi berbeda. Mestinya harus sama,” pesan Gagaring.

Menurutnya, fasilitas kampus pada akhirnya hanya alat untuk mencapai tujuan pendidikan yang lebih besar.

“Fasilitas fisik hanyalah sebuah sarana. Ruang-ruang kelas modern yang kita siapkan dibangun untuk melahirkan ide-ide besar. Laboratorium yang lengkap bermanfaat bagi keumatan. Sarana lingkungan kampus yang asri dirancang untuk memberi kenyamanan bagi lahirnya generasi penerus yang berakhlak mulia,” ujar Gagaring.