banner 728x90

Ma’REFAT INSTITUTE Gelar Diskusi Gerakan Literasi

  • Bagikan

NusantaraInsight, Makassar — Ma’REFAT INSTITUTE (Makassar Research for Advance Transformation) kembali menyelenggarakan kegiatan rutin Ma’REFAT Informal Meeting seri ke-5 (Reforming#5) dengan menghadirkan Sulhan Yusuf (Pegiat Literasi), Muhammad Ilham Alimuddin (Rumah Baca Philosophia), dan Hasbullah Hakim (Dialektika Bookshop) sebagai pemantik, yang bertempat di Kantor LINGKAR-MA’REFAT, Ahad (24/09/2023).

Diskusi yang bertemakan “Gerakan Literasi sebagai Poros Perubahan Sosial dan Pembentukan Kapasitas SDM” ini, dihadiri oleh beberapa peserta dari kalangan pegiat literasi, akademisi, hingga aktivis mahasiswa.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Arifin, selaku moderator yang juga merupakan Koordinator Divisi Program dan Pengkajian dari Ma’REFAT Institute, bahwa diskusi kali ini secara khusus menyasar gerakan literasi melalui beragam sudut pandang para pemantik.

Perbincangan diawali dengan pengalaman-pengalaman yang dialami pemantik selama bergelut dalam dunia literasi. Hasbullah bercerita tentang bagaimana Dialektika Bookshop tumbuh serta Ilham Alimuddin dengan perjuangan mempertahan Rumah Baca Philosophia. Sulhan pun mengenang, “Buku menjadi segalanya bagi saya. Selepas kuliah mulai berdagang buku. Meski kurang menjanjikan, tetapi itu menjadi pilihan yang sadar.”

BACA JUGA:  Kepala LP2AIK PoltekMu Makassar Narasumber Webinar Nasional Kekerasan Seksual di Lembaga Pendidikan

Sesi dilanjutkan dengan pemaparan gagasan-gagasan terkait optimisme para pemantik, setelah sekian tahun bergelut di dunia literasi. Ilham menegaskan bahwa kehadiran Rumah Baca sangat vital dalam berkontribusi secara nyata dalam dunia literasi. Selaras dengan itu, Hasbullah bercerita tentang bagaimana kehadiran toko buku sebagai pintu relasi bagi orang-orang yang menyukai buku. “Toko buku memiliki posisi yang sangat penting dalam ekosistem literasi dan perbukuan. Meskipun memang, masih sangat sedikit keberadaan toko buku, khususnya di Makassar, “ tegasnya.

Sementara itu, Sulhan Yusuf selaku Pendiri Komunitas Boetta Ilmu, kembali mengenang bahwa kecintaannya terhadap literasi sesungguhnya lahir dari interaksi yang erat semasa kecil dengan buku-buku. Pengalaman dan kecintaan yang terus tumbuh dengan buku-buku dan dunia literasi itulah yang kemudian mewujudkan Paradigma Institute dan Kalaliterasi.com sebagai perluasan gerakan literasi yang dibangun.

Untuk mempertajam diskusi, ketiga pemantik kemudian diminta untuk menguraikan pendapat mereka terkait persoalan “Betulkah gerakan literasi sebagai poros perubahan sosial dan betulkah gerakan literasi berpengaruh pada pembentukan kapasitas SDM?”

BACA JUGA:  SMANSA Bantaeng Gandeng Publikasionline.id Gelar Pelatihan Jurnalistik

Hasbullah membuka tracking data penjualan Dialektika Bookshop terkait motivasi mahasiswa dalam membeli buku. Mirisnya, kebanyakan mahasiswa membeli buku hanya untuk disetorkan ke pihak kampus sebagai syarat kelulusan. Menanggapi keadaan ini, beliau menegaskan bahwa saat ini sangat diperlukan orang-orang yang siap terjun ke akar rumput untuk membangun ekosistem literasi.

  • Bagikan