Usai peragaan ‘spray’ herbal, acara dilanjutkan dengan pelatihan pembuatan pupuk kompos dari kotoran sapi yang dipandu oleh Reza Firdaus Abidin, mahasiswa Fakultas Peternakan Unhas.
Dalam paparan teknisnya, Reza menguraikan bahwa limbah peternakan yang selama ini terbuang sia-sia sejatinya berpotensi besar diubah menjadi pupuk organik bermutu tinggi. Proses pengolahannya cukup praktis dan hemat biaya karena hanya memanfaatkan bahan yang mudah didapat, seperti feses sapi, serbuk kayu, air fermentasi tape singkong, serta larutan gula, sehingga sangat memungkinkan diterapkannya secara mandiri tanpa alat rumit.
Ia menambahkan, konversi limbah peternakan menjadi pupuk kompos tidak hanya efektif menekan dampak pencemaran lingkungan, tetapi juga sanggup menghemat pengeluaran pembelian pupuk sekaligus meningkatkan kesuburan lahan demi menggenjot hasil panen petani setempat.
Sajian materi tersebut disambut hangat oleh warga, mengingat mayoritas penduduk Desa Benteng Gajah menggantungkan mata pencaharian pada sektor peternakan sapi. Salah seorang warga dari Dusun Polewali, Ilyas, menuturkan kebahagiaannya atas hadirnya program edukatif ini.
“Alhamdulillah, pembekalan dari adik-adik mahasiswa KKN ini sangat menjawab kebutuhan kami. Di Desa Benteng Gajah populasi sapi cukup banyak, namun kotorannya belum terkelola dengan baik. Lewat pelatihan ini, kami jadi paham kalau kotoran sapi ternyata bisa diolah jadi pupuk yang sangat bagus untuk tanaman,” ungkapnya penuh rasa syukur.
Di sepanjang jalannya kegiatan, Kepala Desa Benteng Gajah, Ansar, terus mendampingi dan memberikan dukungan penuh. Ia memuji kepekaan mahasiswa KKN Tematik 116 Unhas yang mampu menghadirkan program kerja yang selaras dengan potensi wilayah dan kebutuhan mendasar warganya.
Lewat pengabdian ini, para mahasiswa KKN Tematik 116 Perubahan Iklim Unhas berharap transfer pengetahuan ini tidak berhenti sebagai wawasan semata, melainkan betul-betul diterapkan oleh masyarakat. Langkah sederhana berbasis daya lokal ini diharapkan menjadi pijakan bersama dalam mewujudkan desa yang lebih mandiri, sehat, produktif, serta tangguh menghadapi dampak perubahan iklim secara berkelanjutan. (*)


br
br
br






br
br






br