Mahasiswa KKN Unhas Kenalkan Teknologi Biopori untuk Tanah Sehat, Air Terjaga

NusantaraInsight, Makassar — Sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan dan manajemen air di perkotaan, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Universitas Hasanuddin Gelombang 115 meluncurkan program pembuatan Lubang Resapan Biopori (LRB) yang dimulai pada tanggal 15 Januari 2026 – 17 Januari 2026 di Kelurahan Bakung, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar.

Program ini mengusung tema “Tanah Sehat, Air Terjaga”, yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan tanah dalam menyerap air hujan, mengurangi potensi genangan air, serta memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pengelolaan sampah organik rumah tangga secara berkelanjutan.

Lubang resapan biopori dipilih sebagai solusi sederhana, murah, dan aplikatif yang dapat diterapkan langsung oleh masyarakat di lingkungan tempat tinggal masing-masing.

Kelurahan Bakung dipilih sebagai lokasi pelaksanaan program karena memiliki karakteristik tanah yang relatif padat serta sering mengalami genangan air, khususnya pada musim hujan. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam pengelolaan air lingkungan. Oleh karena itu, kehadiran biopori diharapkan mampu menjadi alternatif solusi ekologis yang mendukung perbaikan kualitas lingkungan permukiman.

BACA JUGA:  Ini Daftar 67 Siswa SMAN 2 Enrekang Lulus SNBT-UTBK di PTN

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKN tidak hanya melakukan pembuatan lubang resapan biopori, tetapi juga memberikan pendampingan dan pelatihan teknis kepada warga.

Pelatihan tersebut meliputi tahapan pembuatan lubang biopori yang benar, pemilihan lokasi yang tepat, hingga cara perawatan dan pemanfaatannya sebagai media pengomposan sampah organik rumah tangga.

Salah satu mahasiswa pelaksana kegiatan, Anastasia dan Evana, menjelaskan bahwa biopori merupakan inovasi lingkungan yang sangat mudah diterapkan oleh masyarakat.

“Melalui biopori, kami menawarkan solusi yang murah dan mudah. Cukup dengan membuat lubang silindris sedalam ±50 cm, area yang sebelumnya becek dan tergenang dapat berfungsi sebagai daerah resapan air sekaligus menghasilkan kompos dari sampah organik,” jelasnya.

Respon positif juga datang dari warga setempat. Ibu Itha Thahir, salah satu warga penerima biopori, menyambut baik inisiatif mahasiswa KKN tersebut.

“Alhamdulillah, kami mendapatkan tambahan ilmu tentang cara penanganan biopori. Mudah-mudahan dengan adanya biopori ini, genangan air di sekitar rumah dapat berkurang dan sampah organik bisa dikelola dengan lebih baik,” ungkapnya.

BACA JUGA:  PKM Nasional ADPERTISI Paparkan Teknologi Digital GPS dan Sonar Bagi Nelayan

Secara keseluruhan, kegiatan pembuatan lubang resapan biopori ini berjalan dengan lancar dan memperoleh dukungan penuh dari masyarakat Kelurahan Bakung.

Antusiasme warga terlihat dari keterlibatan langsung dalam proses pembuatan hingga diskusi terkait manfaat biopori bagi lingkungan sekitar. Kehadiran mahasiswa KKN tidak hanya diterima sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai mitra edukatif yang memberikan pemahaman baru mengenai solusi sederhana dalam mengatasi permasalahan lingkungan perkotaan.

Dari aspek pengelolaan sampah, lubang resapan biopori turut mendorong pemanfaatan sampah organik rumah tangga secara lebih produktif. Sampah organik yang dimasukkan ke dalam biopori akan terurai secara alami dan menghasilkan kompos, yang dapat dimanfaatkan kembali oleh warga untuk menyuburkan tanaman di sekitar rumah.

Hal ini secara tidak langsung membantu mengurangi volume sampah rumah tangga sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumbernya.

Lebih lanjut, kegiatan ini juga berperan dalam menumbuhkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.