LP3M Unismuh Latih Kader Posyandu Timbuseng Gowa Jadi Penggerak Kampanye Digital Pencegahan Stunting 

Mantan Ketua STIKOM Muhammadiyah Jayapura itu berharap kegiatan tersebut dapat memberi manfaat bagi masyarakat Desa Timbuseng.

Ia juga berharap pelatihan ini menjadi langkah nyata perguruan tinggi dalam mendukung program pemerintah menekan prevalensi stunting.

“Semoga kegiatan ini memberikan manfaat yang luas dan menjadi amal jariah bagi semua pihak yang terlibat,” katanya.

Salah seorang tim pengabdi, Dr Hafiz Elfiansya Parawu ST MSi, mengatakan pelatihan tersebut difokuskan pada penguatan kapasitas kader Posyandu.

Menurutnya, kader Posyandu merupakan garda terdepan dalam pencegahan stunting di tingkat desa.

Melalui pelatihan ini, para kader tidak hanya memperoleh materi tentang kesehatan dan pencegahan stunting.

Mereka juga dibekali keterampilan memanfaatkan media digital sebagai sarana menyebarkan informasi edukatif kepada masyarakat.

Dr Hafiz menilai, pemanfaatan media digital menjadi kebutuhan penting di era perkembangan teknologi saat ini.

Media digital, kata dia, mampu memperluas jangkauan pesan edukasi dibandingkan metode sosialisasi konvensional yang hanya dilakukan secara tatap muka.

“Melalui pelatihan ini, kader Posyandu diharapkan mampu menjadi agen edukasi yang aktif memanfaatkan media digital untuk menyampaikan pesan-pesan pencegahan stunting kepada masyarakat,” tuturnya.

BACA JUGA:  Inovasi "Halte Literasi" SDN Rappocini Raih Penghargaan IMA 2023 dari Pemkot Makassar

Kepala Desa Timbuseng, Arifai SSos, saat membuka kegiatan mengatakan, kader Posyandu memiliki peran strategis dalam menekan angka stunting di tingkat desa.

Ia menilai, berbagai program pemerintah tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan kader yang bekerja langsung di tengah masyarakat.

“Kader bekerja setiap hari mendata dan mendampingi masyarakat. Pencegahan stunting tidak akan berhasil tanpa keterlibatan para kader yang selama ini bekerja tanpa mengenal lelah,” ujarnya.

Arifai mengatakan, Kabupaten Gowa saat ini menunjukkan capaian positif dalam penurunan angka stunting dan pengentasan kemiskinan.

Di Desa Timbuseng sendiri, kata dia, angka stunting terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun.

Meski demikian, ia menegaskan penanganan stunting tidak boleh hanya dibebankan kepada Dinas Kesehatan.

Menurutnya, persoalan stunting harus ditangani secara lintas sektor dengan melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, serta masyarakat.

“Stunting bukan hanya tugas Dinas Kesehatan. Semua sektor harus mengambil bagian. Kalau desa bekerja sendiri tentu sangat berat, apalagi dengan keterbatasan anggaran yang dimiliki pemerintah desa,” katanya.

BACA JUGA:  Kadisdik Makassar Pantau Diklat BCKS 2025

Arifai mengapresiasi keterlibatan Unismuh Makassar melalui program pengabdian kepada masyarakat.