Sejumlah tradisi maritim yang akan diangkat ke dalam materi dan karya seni, antara lain tradisi parapolo, bose atau dayung sampan, serta penggunaan kampurui atau sarung khas Wakatobi.
Tradisi parapolo merupakan aktivitas menangkap ikan secara tradisional menggunakan perangkap bubu berbahan bambu atau rotan. Tradisi ini mengandung nilai ramah lingkungan dan konservasi laut berbasis adat.
Adapun bose atau dayung sampan tidak hanya dipahami sebagai teknik bernavigasi di laut. Tradisi tersebut juga merepresentasikan ketangguhan masyarakat bahari, ketahanan mental, serta hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan laut.
Sementara itu, kampurui akan dieksplorasi melalui berbagai fungsi penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari, atribut adat, permainan rakyat, dan tarian yang menjunjung nilai kebersamaan.
Targetkan Karya dan Festival Budaya
Panitia menargetkan workshop tersebut melahirkan karya sastra dan pementasan teater dari kalangan siswa. Selain itu, para guru dan komunitas diharapkan mampu menyusun proposal kebudayaan yang berkualitas dan sesuai ketentuan pendanaan.
Dalam jangka panjang, hasil workshop diharapkan berkembang menjadi festival kebudayaan tahunan. Festival tersebut diharapkan dapat memperkuat promosi Pulau Tomia dan Kabupaten Wakatobi sebagai destinasi wisata dunia yang berkarakter dan berkelanjutan.
Untuk mendukung pelaksanaan kegiatan, panitia telah membentuk sejumlah seksi, antara lain seksi acara, pertunjukan atau tarian, dokumentasi, perlengkapan, penataan gedung, penerima tamu, konsumsi, dan keamanan.
Bendahara panitia juga ditugaskan mengelola anggaran sesuai petunjuk teknis dana hibah kebudayaan, mencatat seluruh transaksi, serta menyusun laporan pertanggungjawaban kegiatan. Ketentuan pengelolaan dan pertanggungjawaban anggaran menjadi bagian penting dalam berbagai program fasilitasi kebudayaan pemerintah.












