Dari Salawat hingga Filosofi Telur Maulid, Siswa SDN Borong Belajar Memaknai Cinta Rasul

Maulid berkaitan dengan waktu, tempat, atau momentum memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sementara maulud berarti “yang dilahirkan”.

Penjelasan sederhana itu menjadi penting karena mengenalkan sejarah dan kebudayaan Islam kepada anak dengan cara yang mudah dipahami.

Ada satu bagian yang menarik perhatian dalam peringatan Maulid di Sulawesi Selatan: telur yang ditancapkan pada batang pisang.

Telur itu bulat, rapuh, tetapi dibuat berdiri tegak berkat kreativitas. Ia seperti mengajarkan bahwa sesuatu yang tampak sederhana pun dapat membawa pesan tentang keteguhan.

Batang pisang juga bukan sekadar wadah. Ia terus bertumbuh dan menghasilkan buah. Filosofi ini dapat dibaca sebagai pengingat bahwa manusia seharusnya tumbuh dan memberi manfaat.

Begitu pula jantung pisang. Ia bisa dimaknai sebagai hati. Dari hati yang baik, semestinya lahir perkataan dan perbuatan yang baik.
Maka, ketika anak-anak melihat telur Maulid, mereka sebenarnya sedang diajak membaca sebuah simbol: teguh dalam keyakinan, terus bertumbuh, dan menghasilkan kebaikan.

Rasul sebagai Teladan

Kecintaan kepada Rasulullah SAW kemudian diarahkan pada empat sifat utama yang patut diteladani: shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah.

BACA JUGA:  Siswa-Siswi Kelas XII SMAN 2 Enrekang Uji Tahsin dan Setor Hafalan Juz 30

Jujur, dapat dipercaya, menyampaikan kebaikan, dan cerdas.
Nilai-nilai itu sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan anak di sekolah.
Jujur ketika mengerjakan tugas. Amanah ketika mendapat tanggung jawab.

Dengan demikian, cinta Rasul tidak berhenti pada seberapa merdu seseorang melantunkan salawat. Cinta itu menemukan ukurannya dalam perilaku.

Ustaz bahkan memberikan apresiasi kepada para siswa.

“Luar biasa anak-anak. Mereka bisa melafazkan salawat dengan baik.”

Pujian tersebut bukan sekadar penghargaan atas kemampuan tampil. Di baliknya ada pesan bahwa anak-anak memiliki potensi besar ketika diberi ruang untuk belajar, berekspresi, dan tampil percaya diri.
Tiga Lingkaran Persaudaraan

Persaudaraan dalam Islam juga tidak hanya berhenti pada hubungan sesama muslim.

Ada ukhuwah Islamiyah, persaudaraan sesama umat Islam; ukhuwah wathaniyah, persaudaraan sebagai sesama anak bangsa; dan ukhuwah insaniyah atau basyariyah, persaudaraan sebagai sesama manusia.

Tiga lingkaran itu membuat tema moderasi beragama terasa lebih dekat dengan kehidupan anak. Kita boleh berbeda agama, suku, budaya, bahasa, bahkan kebiasaan. Tetapi perbedaan tidak harus menjadi alasan untuk saling menjauh. Justru karena berbeda, anak-anak perlu belajar saling menghargai.
Khidmat dan Edukatif

BACA JUGA:  Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Sultra Kuliah S2 di UNIFA Makassar

Rangkaian acara berlangsung dalam suasana khidmat sekaligus edukatif.