Dari Salawat hingga Filosofi Telur Maulid, Siswa SDN Borong Belajar Memaknai Cinta Rasul

Rasul sebagai Teladan

Kecintaan kepada Rasulullah SAW kemudian diarahkan pada empat sifat utama yang patut diteladani: shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah.

Jujur, dapat dipercaya, menyampaikan kebaikan, dan cerdas.
Nilai-nilai itu sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan anak di sekolah.
Jujur ketika mengerjakan tugas. Amanah ketika mendapat tanggung jawab.

Dengan demikian, cinta Rasul tidak berhenti pada seberapa merdu seseorang melantunkan salawat. Cinta itu menemukan ukurannya dalam perilaku.

Ustaz bahkan memberikan apresiasi kepada para siswa.

“Luar biasa anak-anak. Mereka bisa melafazkan salawat dengan baik.”

Pujian tersebut bukan sekadar penghargaan atas kemampuan tampil. Di baliknya ada pesan bahwa anak-anak memiliki potensi besar ketika diberi ruang untuk belajar, berekspresi, dan tampil percaya diri.
Tiga Lingkaran Persaudaraan

Persaudaraan dalam Islam juga tidak hanya berhenti pada hubungan sesama muslim.

Ada ukhuwah Islamiyah, persaudaraan sesama umat Islam; ukhuwah wathaniyah, persaudaraan sebagai sesama anak bangsa; dan ukhuwah insaniyah atau basyariyah, persaudaraan sebagai sesama manusia.

Tiga lingkaran itu membuat tema moderasi beragama terasa lebih dekat dengan kehidupan anak. Kita boleh berbeda agama, suku, budaya, bahasa, bahkan kebiasaan. Tetapi perbedaan tidak harus menjadi alasan untuk saling menjauh. Justru karena berbeda, anak-anak perlu belajar saling menghargai.
Khidmat dan Edukatif

BACA JUGA:  FKep Unhas Gelar FGD “TeenCare” untuk Optimalisasi Kesehatan Ibu dan Janin pada Kehamilan Remaja

Rangkaian acara berlangsung dalam suasana khidmat sekaligus edukatif.

Kelas 4B membawakan lagu “Aisyah”. Farwisa dari kelas 6A membaca Al-Qur’an, dilanjutkan tilawah oleh Fahrizal dari kelas 5A. Siswa laki-laki kelas 6A dan 6B melantunkan salawat. Sementara siswa perempuan dari kedua kelas tersebut membawakan nasyid.

Ada pula tari Islami “Demi Sang Nabi” yang dibawakan siswa kelas 3A.

Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan keagamaan dapat hadir dalam banyak bentuk. Ada bacaan, nyanyian, gerak, seni, ceramah, dan tentu saja pengalaman bersama.

Acara diawali oleh Bu Nisa dan Bu Elly sebagai MC, kemudian sambutan Ketua Panitia Ibu Rosmiaty, S.Pd.I, Kepala UPT SPF SD Negeri Borong, Andi Etty Cahyani, S.Pd, M.Pd, pengawas SD Kecamatan Manggala, Barliang, S.Pd.

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW ini dihadiri oleh Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S), Hj Rosmiati S.Pd., M.Pd, Ketua Komite SD Kompleks Borong, Drs H Marzuki, Kepala SD Inpres Borong, Dr Sari Bulan S.Pd.,M.Pd, dan sejumlah orangtua siswa.

Anak-anak berpartisipasi dan tampil mengekspresikan potensi dirinya.
Mereka membaca, melantunkan salawat, bernyanyi dalam nada dan pesan yang islami.

BACA JUGA:  Mahasiswa Polkesmas Berjuang Menurunkan Stunting di Kabupaten Bone

Maulid akhirnya tidak hanya berbicara tentang kelahiran seorang Nabi lebih dari empat belas abad silam. Namun sebuah proses dan pendekatan belajar nilai-nilai agama dengan cara yang lebih dekat pada kehidupan anak-anak.

Di SD Negeri Borong, pelajaran itu dimulai dengan cara yang sederhana: dari salawat yang dilantunkan bersama, dari telur yang berdiri tegak di atas batang pisang, dari tangan-tangan kecil yang belajar berbagi, dan dari anak-anak yang perlahan memahami bahwa persaudaraan adalah bagian penting dari cinta kepada Rasul. (*)