Bimtek Inovasi ‘Panrita 20’: Langkah Nyata SMPN 20 Makassar Lestarikan Budaya Sulsel di Sekolah

Kurikulum Terintegrasi Budaya

Nilai-nilai budaya Sulsel tidak hanya diajarkan dalam satu mata pelajaran, melainkan disusun menyeluruh ke dalam pembelajaran semua bidang studi. Penekanan utama diberikan pada Seni Budaya dan Prakarya, namun merambah ke seluruh mata pelajaran: Matematika dipelajari melalui ukiran ragam hias tradisional; IPA melalui bahan pewarna alami; IPS melalui sejarah dan budaya lokal; Olahraga melalui permainan rakyat; Bahasa melalui cerita rakyat. Bahkan menu kantin pun dirancang menyajikan kuliner tradisional Sulsel.

br

Lingkungan Sekolah sebagai Ruang Budaya

Seluruh area sekolah ditata sebagai ruang yang hidup dan mencerminkan kearifan lokal. Ornamen, filosofi Bugis–Makassar, aksara Lontara, motif ragam hias, dan karya seni bertema budaya Sulsel menghiasi setiap sudut—mulai dari gerbang sekolah, lorong kelas, hingga ruang guru. Bahkan tempat sampah pemilahan pun berbentuk rumah adat, sehingga setiap langkah siswa di sekolah senantiasa dikelilingi oleh nilai-nilai budaya daerahnya.

“Kami ingin setiap siswa yang melangkah di sekolah ini tidak hanya belajar teori, tetapi juga menghirup budaya daerahnya. Kami ingin melahirkan ‘Panrita’ — generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga bijaksana dan berakar pada identitas leluhurnya.”
Ujar Andi Rachma Aris, S.Si., S.Pd., M.Pd., Kepala Sekolah SMP Negeri 20 Makassar Senin, 24 Agustus 2026.

BACA JUGA:  Sebulan, Terjaring 1.720 Mahasiswa Baru UT

Langkah Menuju Resmi & Berkelanjutan

Keberhasilan inovasi ini tidak hanya diharapkan pada peluncuran, melainkan dirancang untuk berjalan secara berkelanjutan. Pihak sekolah menyusun tahapan pembentukan secara bertahap dan terencana:

Pembentukan Tim Inovasi beserta penerbitan Surat Keputusan, yang melibatkan Kepala Sekolah, guru, perwakilan siswa, hingga komite sekolah;
Penyusunan Pedoman Resmi berupa panduan integrasi budaya ke dalam kurikulum pembelajaran serta pedoman penataan lingkungan sekolah berbasis budaya;
Bimtek dan Pelatihan bagi seluruh guru untuk memperkuat kapasitas pendidik dalam mengintegrasikan nilai budaya ke dalam pembelajaran serta memperdalam pemahaman mengenai seni dan kerajinan khas Sulawesi Selatan;
Sosialisasi kepada seluruh warga sekolah sebelum peluncuran resmi, agar setiap pihak memahami makna dan tujuan “Panrita 20”;
Penjadwalan rutin kegiatan seperti pameran karya, pagelaran tari dan musik, lomba seni budaya, serta pembelajaran prakarya berbasis budaya agar inovasi ini terus hidup dan berkembang.

Harapan & Dampak yang Diharapkan

Melalui inovasi “Panrita 20”, diharapkan lahir dampak positif yang nyata dan berkelanjutan bagi seluruh warga sekolah maupun masyarakat luas. Pertama, meningkatnya minat dan kecintaan peserta didik terhadap budaya Sulawesi Selatan, sehingga generasi muda tidak melupakan identitas daerahnya dan bangga sebagai anak Sulawesi Selatan. Kedua, berkembangnya kreativitas dan keterampilan siswa melalui pembuatan karya seni dan prakarya bernilai jual yang berakar pada budaya lokal, sekaligus melatih jiwa wirausaha. Ketiga, terbentuknya lingkungan sekolah yang kaya nilai kearifan lokal yang dapat menjadi teladan bagi sekolah lain dalam pelestarian budaya daerah. Keempat, tumbuhnya rasa percaya diri dan karakter mulia peserta didik—seperti keberanian, kejujuran, gotong royong, dan tanggung jawab—sesuai dengan makna sosok “Panrita” dalam budaya Bugis–Makassar. Terakhir, inovasi ini diharapkan dapat memperkuat peran sekolah sebagai pusat pelestarian budaya, yang tidak hanya mendidik secara akademik, tetapi juga membentuk karakter dan jati diri bangsa.

br
br