Wati, Potret Semangat Meraih Langit

Wati tahu bahwa sudah hampir 80 tahun Indonesia merdeka, namun yang ia tahu bahwa arti merdeka adalah ketika ia hormat pada bendera merah putih yang mungkin juga sudah lusuh dan terikat pada bambu di sisi rumah panggung tempat ia menimba ilmu.

Dan ia tahu bahwa cita-cita merdeka itu salah satunya adalah Mencerdaskan Kehidupan Bangsa, seperti pembukaan UUD 45 yang sering dibacanya.

Perjalanan Menuju Sekolah Kolong

Untuk menuju Sekolah Kolong di wilayah Desa Bonto Somba yang topografinya berupa dataran tinggi dengan elevasi 800 mdpl dan dengan formasi struktur berbukit-bukit dan batuan jenis formasi karts ini tak mudah. Butuh waktu kurang lebih 2 jam dengan menggunakan sepeda motor, tetapi motor yang digunakan harus motor yang telah dimodifikasi seperti motor trail, karena kondisi jalannya yang benar-benar penuh bebatuan dan jalanan menanjak dikarenakan lokasinya berada di wilayah pegunungan yang cukup jauh yaitu di Pegunungan Cindakko.

Wati
Akses yang dilalui ke sekolah kolong

Untuk ke sana, kita dapat menggunakan ojek motor trail atau modifikasi. Harga ojek untuk ke sana, sesuai kesepakatan cukup “tawar menawar harga pas tancap gas” (plagiat lagu Iwan Fals).

BACA JUGA:  IKA FH-UH Angkatan 87 Akan Gelar Halalbihalal

Di wilayah Bonto Somba terdapat Sungai Muntia yang mengalirkan airnya ke Sungai Maros dan itu menjadi pemandangan yang menyejukkan. Bukan itu saja akses menuju ke sana kita akan disuguhi dengan pemandangan pegunungan karst yang indah.

Namun bukan hal mudah untuk menjadi juru mudi kendaraan bermotor ke sana. Butuh “pilot” yang tangkas dan memiliki jam terbang tinggi, jika tidak nasib mu akan berakhir tragis di bawah jurang.

Memang daerah ini sangat asri dan terjaga karena daerah ini masuk kawasan konservasi yang pada bagiannya merupakan penyebaran hewan-hewan endemik Sulawesi Selatan, salah satu di antaranya adalah anoa, macaca maura, dan kuskus.

Masyarakat di sini sebagian besar hidup dari pencari madu hutan, pembuat gula merah, dan pertanian sawah dan juga pencari getah pinus.

Bayangkan saja, untuk menuju ke desa ini, kita harus menempuh 25 Km dari pusat kecamatan di Pucak Tompobulu dan 41 Km dari Kota Maros. Dan satu-satunya sekolah tempat Wati bersekolah hanya di Sekolah Kolong di Dusun Bara.

BACA JUGA:  Prof Hasnawi Haris Aklamasi Pimpin PGRI Sulsel 2024-2029

Sekolah kolong ini dirintis oleh Dg Joha dan Suryadi sejak 2018, namun baru pada tahun 2023, Pemerintah Kabupaten Maros memberikan pengakuan sebagai kelas jauh dari SD Inpres 238 Bonto Parang. Kini sekolah jauh tersebut memiliki tiga guru tetap yang tinggal di dusun Bara.

Sekolah Kolong memakai kolong rumah milik warga Dusun Bara bernama ibu Saba. Sekolah ini merupakan sekolah kelas jauh dari SDN inpres 238 Bonto Parang Kecamatan Tompobulu Kabupaten Maros.

Sekolah kolong wati
Siswa belajar di sekolah kolong

Sekolah ini tak memiliki sekat, jadi kelas 1 hingga kelas 6 SD digabung menjadi satu kelas saja.

Sekilas Dusun Bara, Kampung Adat di Atas Gunung

Wati Dusun Bara
Dusun Bara

Bara, adalah kampung pegunungan yang dikenal dengan Dusun Bara. Dusun yang kelompok masyarakatnya berada di Desa Bonto Somba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan dengan RT berjumlah tiga.

Kisah sejarah kampung tersebut cukup menarik, karena dikisahkan oleh para tokoh adat saat berkesempatan berdiskusi di rumah adat Bugis, bahwa Bara adalah tanah yang diberikan oleh Kerajaan Gowa dengan syarat luas wilayahnya seluas kulit kerbau yang dipotong tipis.

BACA JUGA:  Dr.dr. Adi W.Gunawan, S.T.,M.Pd.CCH Sukses Ditentukan Faktor Tuhan dan Manusia

Hasil potongan tersebut dibentangkan sambung menyambung menjadi bentuk bulat. Saat kedua ujungnya bertemu masa seluas itulah wilayah dusun tersebut dikisahkan pula bahwa dalam bahasa bugis Bara memiliki makna yaitu pagar dari kulit kerbau.