Melalui keduanya, saya dipertemukan dengan Danny Pomanto, yang belum lama terpilih sebagai Wali Kota Makssar, bersama Syamsu Rizal MI, sebagai Wakil Wali Kota Makassar.
Ketika membawa ide KLA yang digambarkan dalam 3 lembar kertas HVS, kami gunakan pendekatan persuasi dengan kata kunci “arsitek”. Bahwa sejarah KLA bermula dari seorang arsitek, sama dengan Pak Wali yang juga arsitek.
Tulisan “Jika Saya Wali Kota Makassar”, dan 2 artikel saya lainnya, terhimpun bersama tulisan-tulisan lain dari sejumlah guru besar, akademisi, tokoh, aktivis, dan penulis yang kerap mewarnai wacana media massa era itu. Tulisan-tulisan itu semua sudah terpublikasi melalui media arus utama.
Artikel yang saya tulis, “Jika Saya Wali Kota Makassar” bukan saja menjadi dokumen sejarah, tapi juga bisa mewujud nyata. Buktinya, pada Senin, 22 September 2014, dilakukan pencanangan Makassar Kota Layak Anak (KLA) oleh Moh Ramdhan Pomanto di Lapangan Karebosi, yang merupakan 0 kilometernya Makassar.
Menariknya, saat deklarasi Makassar sebagai KLA, saya dipertemukan kembali dengan Ibrahim Saleh. Hanya saja, kali ini, beliau sudah menjadi Sekretaris Daerah Kota Makassar. Usai deklarasi, beliau berkata, “Saya tahu, siapa di belakang acara ini.”
Sementara buku bunga rampai tulisan “MasaDPan Makassar, Dinamika Demokrasi dan Pemerintahan”, diluncurkan di kediaman Danny Pomanto, Jalan Amirullah, Makassar, Jumat, 30 Januari 2015. Hadir dalam acara itu Ilham Arief Sirajuddin (Wali Kota Makassar, dua periode 2004-2009 & 2009-2014) dan Syamsu Rizal (Wakil Wali Kota Makassar).
Kontributor buku “MasaDPan Makassar, Dinamika Demokrasi dan Pemerintahan”, antara lain TR Andi Lolo, M Qasim Mathar, Aswar Hasan, Firdaus Muhammad, Andi Haris, Andi Januar Jaury, Hasrullah, Muliyadi Hamid, Abdul Gaffar, Aspiannor Masrie, Barsihannor, Ostaf Al Mustafa, Sri Rahmi, Ghufran H Kordi K, Waspada Santing, Kamaruddin Azis, Mubha Kahar Muang, Philips Tandilinting, Rahmad M Arsyad, Saharuddin Daming, dan Moch Hasymi Ibrahim. Sebagian besar dari penulis ini hadir saat peluncuran buku.
Buku yang diterbitkan oleh Badan Arsip, Perpustakaan, dan Pengolahan Data Kota Makassar itu, kian punya cerita karena mempertemukan saya sebagai editor dengan banyak orang. Salah seorang di antaranya adalah Prof Dr Heather Sutherland dari Faculty of Social Studies Vrije Universiteit Amsterdam, Belanda.
Dalam postingan di Instagram saya, Rusdin Tompo, tertanggal 15 Agustus 2020, dengan judul BUKU SEBAGAI MEDIUM, saya berkisah tentang buku “MasaDPan Makassar, Dinamika Demokrasi dan Pemerintahan”, yang saya serahkan kepada Prof Dr Heather Sutherland.
Ketika bertemu di Kafe Baca, tahun 2015, Prof. Sutherland memperkenalkan diri sebagai peneliti Makassar. Sudah lebih 50 tahun beliau mengkaji Makassar. Pertemuan hari itu juga dalam rangka melengkapi penelitiannya terkait Makassar di era modern.
Prof. Sutherland sangat ingin mendapatkan buku kumpulan tulisan yang saya sunting, setelah membaca berita di Tribun Timur tentang peluncuran buku itu. Melalui seorang koleganya di Unhas yang mengontak saya, kami kemudian janji bertemu.
Tentu dengan senang hati saya memberikan buku setebal 268 halaman tersebut. Buku itu merekam dinamika pilkada Makassar 2014 dan 100 hari masa pemerintahan DIA, sebutan untuk pasangan Moh Ramdhan Pomanto dan Syamsu Rizal (Walikota dan Wakil Walikota Makassar, periode 2014-2019).
Dalam postingan menjelang Pilkada Makassar 2020 itu, saya katakan bahwa buku bersampul merah itu mengingatkan saya pada sosok peneliti yang tekun tersebut.












