Sebagai manusia pembelajar, beliau kuliah dari satu kampus ke kampus lain, untuk mengikuti berbagai aktivitas akademik. Beliau menghadiri seminar di berbagai tempat, yang tujuannya bukan semata-mata untuk mendapatkan ilmu dari para pembicara andal, tetapi juga untuk bisa makan siang gratis.
Sebagai orang dengan ekonomi terbatas, beliau berusaha mengelola beasiswa yang diperolehnya secara bijak. Kuliahnya yang maraton bisa dirampungkan dengan baik, karena beliau punya manajemen waktu.
Dengan begitu, beliau bisa wisuda tiga tahun berturut-turut, layaknya pemain sepak bola yang melakukan hattrick, dengan deretan 9 gelar di belakang namanya.
Kekayaan dan pangkat bukan penentu, merupakan bagian selanjutnya yang menarik dibaca. Pada bagian ini dikisahkan awal mula Sukardi Weda bertemu calon istrinya, Andi Rusbanna Amir, di bus antarkota dalam perjalanan dari Kota Parepare ke Kota Makassar.
Sukardi Weda yang tidak pernah punya pengalaman mendekati lawan jenis, kali itu berani mengajak perempuan yang baru dikenalnya itu ngobrol. Gayung bersambut, hingga kedunya berjodoh, lalu naik ke pelaminan sebagai pasangan suami istri.
Keluarga muda ini sempat merantau ke Jakarta dan tinggal tidak jauh dari rel kereta api.
Selama membangun rumah tangganya itu, agama dan nilai budaya Bugis menjadi pedoman mereka dalam mendidik anak-anaknya.
Ada kisah mengharukan di bagian ini, yakni saat Sukardi Weda mengantar anaknya ke TK, yang ternyata merupakan kebersamaan terakhirnya dengan anak sulungnya tersebut.
Di bagian menunggu setelah 15 tahun, penulis dalam autobiografinya mengisahkan perjuangan, daya tahan, semangat pantang menyerah, serta kesabaran dan keikhlasannya dalam meniti karier.
Sikapnya yang istikamah membuahkan keberkahan, sehingga beliau dibukakan jalan bekerja di sebuah travel haji. Dari sanalah kemudian beliau dimudahkan berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.
Dukungan kepadanya selama meniti karier bukan saja datang dari istri dan anak-anaknya, tetapi juga dari bapak mertuanya, seorang pensiunan TNI, yang antara lain memberinya sepatu pantofel bekas untuk dipakai pergi mengajar.
Setelah menunggu 15 tahun, beliau akhirnya terangkat sebagai PNS, dan itu diakui berkat ilmu dan gelar yang disandang, yang membukakan pintu-pintu karier baginya.
Hasil tidak akan mengkhianati usaha. Mencapai jabatan fungsional tertinggi, merupakan catatan manis Sukardi Weda dalam perjalanan karier profesionalnya sebagai dosen, dan tugas-tugas fungsionalnya sebagai pengajar.
Pada bagian ini, ada sejumlah rekaman perjalanan hidup yang patut dibanggakan, di mana beliau mampu mengukir namanya sebagai dosen berprestasi, dan tentu saja menjadi Guru Besar.












