Sepertinya ada Lagi Maksud Terselubung

Sepertinya ada Lagi Maksud Terselubung
Dari kiri ke kanan: Rahman Rumaday, Rusdi Embas, Dahlan Abubakar dan Arwan D Awing

Saya memilih duduk di kursi paling belakang, merasa sedikit asing di tengah kerumunan yang sudah lama menjadi bagian dari perjalanan Pedoman Rakyat. Namun, meskipun saya duduk di bagian belakang, saya merasa seperti bagian dari perjalanan itu, latar belakang yang berbeda-beda, dari yang lebih senior hingga yang lebih muda, semua hadir untuk merayakan sebuah perjalanan panjang yang penuh makna.

Pedoman Rakyat, yang kini berusia lebih dari tujuh dekade, telah melalui berbagai peristiwa besar dalam sejarah bangsa. Seperti halnya kehidupan manusia yang pasti mengalami pasang surut, begitu juga mungkin pedoman rakyat, yang telah mengalami banyak perubahan beradaptasi dengan zaman. Pada usia yang kini menginjak 78 tahun, Pedoman Rakyat bisa diibaratkan sebagai seseorang yang telah memasuki fase puncak pemahaman dan kebijaksanaan dalam hidup. Seperti manusia yang telah memahami arti hidup, kini Pedoman Rakyat memahami lebih dalam tentang misi dan visinya dalam melayani masyarakat, beradaptasi dengan teknologi baru, serta menghadapi tantangan zaman.

Namun, meski begitu matang dan penuh pengalaman, usia tetap menjadi batas yang tak bisa dihindari. Seperti manusia yang harus memaknai tiap detik yang masih tersisa, saya yakin Pedoman Rakyat pun pasti sedang memikirkan langkah-langkahnya di masa depan. Apa yang bisa dilakukan untuk tetap relevan? Bagaimana caranya untuk terus menjaga api semangat dalam menyampaikan informasi yang tepat dan berguna bagi masyarakat? Inilah yang mungkin juga menjadi pertanyaan dalam hati setiap insan yang telah melewati usia matang, memikirkan tentang legacy yang akan ditinggalkan.

BACA JUGA:  Lahan Contoh Penghijauan di Kec. Parado Bima (5-Habis): Lagu Lara Petani Jagung

Dan begitu saya duduk di sana, di kursi perayaan dan buka puasa bersama paling belakang, saya menyadari betapa setiap usia baik itu usia media maupun usia manusia memiliki makna dan hikmah tersendiri. Tidak ada yang lebih tua atau lebih muda dalam setiap proses pertumbuhan. Ada momen di mana kita harus merasa bangga dengan perjalanan panjang yang telah dilalui, dan ada momen di mana kita harus siap melepaskan dan membuka diri untuk hal-hal baru. Mungkin, di balik rasa malu saya, sesungguhnya ada peluang untuk belajar, untuk menggali kebijaksanaan yang lebih dalam dari mereka yang telah lebih dahulu berjalan.

“Hati kecil saya. Jika saya ada dalam forum yang berisi orang yang punya pengalaman dan usia yang matang, hati saya berkata kenapa saya lambat lahir? Dan jika saya ada dalam forum yang berisi anak-anak muda yang kreatif, punya kemampuan laur biasa, hati saya pun juag bertanya kenapa saya cepat lahir”??

Saya pun tersenyum, lalu mengingat pernyataan sederhana dari Ardhy. “Kan ada saya, ada juga Pak Andi Awing dan pak Rusdy Embas.” Ternyata, tidak ada yang perlu saya khawatirkan. Sebagaimana dalam kehidupan, yang muda dan yang tua, yang baru dan yang lama, pada akhirnya saling melengkapi, saling belajar, dan saling memberi.

BACA JUGA:  Merdeka Belajar Problem Pendidikan kekinian.

Acara demi acara telah berlalu, mulai dari pembukaan, sambutan-sambutan, buka puasa bersama hingga sholat Maghrib berjamaah di masjid. Suasana semakin terasa hangat, namun setelah itu, sebagian besar peserta mulai beranjak untuk kembali ke tempat acara. Ada yang bergegas pulang, mungkin karena ingin mengejar sholat Tarawih di dekat rumah masing-masing, sementara beberapa lainnya masih duduk, berbincang-bincang, menikmati sisa-sisa waktu yang ada. Dari tempat duduk saya yang berada di bagian belakang, mata saya tertuju pada meja utama. Di sana, tampak duduk dengan santai Dr. M Dahlan Abubakar, tokoh pers nasional yang juga Ketua Alumni Harian Pedoman Rakyat, ditemani oleh M Rusdy Embas, Pemred MakassarChannel, dan Arwan D Awing, Direktur BugisPos Grup. Melihat suasana yang mulai lowong, saya pun memutuskan untuk mendekat, merasakan kehangatan yang seolah mengundang.