Saya Menyematkan Sikap Kritis dan Kepedulian pada Nama Anak-Anak

Gandhi lahir normal. Saya kumandangkan adzan di telinga kanannya dan iqamah di telinga kirinya. Ini anjuran dalam ajaran Islam agar anak-anak diperkenalkan kalimat tauhid begitu lahir. Setelah mengurus campuginya, yang sama seperti kakaknya, ditaruh pada kuali tembikar lalu dihanyutkan di Sungai Jekneberang, saya langsung ke Polmas.

Pulang dari Polmas, saya ke rumah bersalin menjemput istri dan anak-anak. Honor sebagai pembicara, sebesar Rp750.000 dipakai untuk membayar biaya persalinan. Begitu tiba, istri saya menyampaikan bahwa selama 3 hari ini, Gilang dan Galang mengenakan baju yang sama, setiap kali sehabis mandi. Rupanya, saking buru-burunya mau ke Polmas, saya lupa mempersiapkan baju ganti bagi kedua anakku itu hehehe.

Saat akan memberi nama anak yang baru lahir itu, saya mencari figur yang bisa merepresentasikan semangat anti kekerasan. Saya kemudian menemukan nama Mahatma Gandhi. Mohandas Karamchand Gandhi, merupakan pemimpin spiritual dan seorang politisi. Tokoh pejuang kemerdekaan India ini terkenal dengan perlawanan tanpa kekerasan, yang disebut Ahimsa.

Bersamaan dengan itu, pada tahun 2003, Presiden Megawati Soekarnoputri (2001-2004), mencanangkan sebagai tahun tanpa kekerasan, setelah sebelumnya Indonesia diguncang bom dahsyat. Bom Bali I meledak tanggal 12 Oktober 2002, menewaskan 203 orang dengan korban luka-luka sebanyak 209 orang.

BACA JUGA:  Ishakim, Kompeni Tak Menjajah

Demikianlah konteks sejarah dan peristiwa pemberian nama anak saya, San Valentino Mahatma Gandhi. Kata “Valentino” ditambahkan karena dia lahir bulan Februari, bulan kasih sayang. Sedangkan kata “San”, yang berarti tiga dalam bahasa Mandarin, karena saya menginginkan unsur China pada namanya. Sebab dia lahir dalam suasana perayaan Imlek, tahun itu. Belakangan saya tahu bahwa istri saya, dari garis keturunan ayahnya, juga punya darah Tionghoa-Manado.

Jadi, nama San Valentino Mahatma Gandhi dapat dimaknai sebagai anak ketiga yang penuh kasih sayang sebagaimana Gandhi sang jiwa agung. (*)

Gowa, 1 Februari 2024