Bila nama yang ditaruh di dahi sanggup “dibawa”, maka bayi akan memberi respons senyum. Sebaliknya, kalau dia tidak sanggup membawa nama itu, reaksinya bagai bayi yang akan nangis. Percobaan itu perlu dilakukan beberapa kali, agar lebih yakin.
Singkat cerita, nama Gilang Benazir Adinara, yang akhirnya kami (saya dan istri) pilih. Namun, spirit dan suasana kebatinan pemberian namanya, tak jauh dari suasana politik bangsa kita, kala itu.
Malam sebelum dia lahir, atau pada 4 Mei, saya sebagai reporter radio meliput peringatan AIDS Candlelight Memorial, yang dihelat KRA-AIDS di Fort Rotterdam. Ini merupakan peringatan malam renungan AIDS pertama di Makassar. Kelompok Relawan Antisipasi (KRA) AIDS ini dipimpin Zulkifly Amin.
***
Anak saya yang kedua, Galang Nuraga Attar Nusantara, lahir 20 Februari 2000, pada awal milenium ketiga. Nama yang berarti, menggalang empati demi keharuman Nusantara ini, juga punya latar peristiwa yang dekat dengan aktivitas saya. Saat dia lahir, saya sudah di Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sulawesi Selatan.
Galang lahir saat fajar. Sehari sebelumnya, saya punya janji wawancara tentang penanganan pengungsi anak dengan Radio Al-Ikhwan FM, yang saat itu mungudara dalam format baru. Karena sibuk mengurus anak saya yang baru lahir, saya tak jadi ke studionya di Jalan Sunu. Wawancara diputuskan hanya by telepon.
Pagi itu juga saya ke kantor LPA di Jln Andi Tonro No 11. LPA, ketika itu, menangani anak-anak korban konflik. Anak-anak korban kerusuhan Maluku, di antaranya ada yang ditampung di Kodam VII/Wirabuana, sekarang Kodam XIV/Hasanuddin. LPA juga menangani anak-anak refugee, pasca lepasnya Timor Timur dari Republik Indonesia.
Setelah wawancara rampung, saya mencari kuali tanah liat (tembikar), tempat menaruh campugi (ari-ari bayi). Kemudian pulang ke rumah, mengurus ari-ari itu. Ari-arinya setelah selesai dibersihkan dan ditaruh dalam tembikar, saya sertakan pula pensil di dalamnya. Saya bawa ke arah Jembatan Kambara, lalu dihanyutkan di sungai Jekneberang, Kabupaten Gowa. Dalam pandangan tradisi Makassar, yang dilakukan ini maksudnya supaya kelak si anak punya wawasan yang luas.
O, iya. Nama anak saya itu, semula hanya Nuraga Attar Nusantara. Penambahan “Galang” terjadi, saat suatu hari, dalam perjalanan pulang dari tempat kerja, saya mendengar lagu “Galang Rambu Anarki”, dinyanyikan Iwan Fals –salah satu penyanyi idola saya– diputar di atas pete-pete yang saya tumpangi. Seketika saya menggumamkan nama itu: Galang Nuraga Attar Nusantara. Rasanya klop. Jadilah nama itu tersemat hingga sekarang.
***
Kembali ke cerita awal saya, tentang San Valentino Mahatma Gandhi, yang kini mahasiswa Jurusan Sosiologi semester 6, Universitas Negeri Makassar (UNM). Namanya terangkai dan menggambarkan serentetan peristiwa. Dia lahir menjelang saya akan ke Polmas (sekarang masuk Provinsi Sulawesi Barat). Saya diundang sebagai pembicara seminar terkait perlindungan anak dari kekerasan. Penyelenggaranya, BAPPEDA Polmas dan mitra LSM lokal, atas dukungan UNICEF, organisasi internasional untuk anak-anak di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Hari itu, Sabtu, 1 Februari 2003, saya mengantar istri saya, Gita Nurul Ramadhani, ke rumah bersalin di Kompleks Permata Hijau Permai, Makassar. Dua anak saya, Gilang dan Galang, juga kubawa dan dititipkan di rumah bersalin tersebut. Maklum, tak ada yang menjaganya di rumah. Keduanya juga lahir di sini, sehingga dikenal baik perawat dan bidannya. Bahkan setiap kali Natal, kami selalu datang bersilaturahmi.












