Dalam sejarah, para nabi, ulama, dan pejuang kebenaran selalu menghadapi bentuk-bentuk kriminalisasi. Nabi Yusuf ‘alaihissalam difitnah oleh Zulaikha dan dipenjara karena menolak perbuatan keji. Nabi Musa ‘alaihissalam dituduh sebagai pembuat onar oleh Fir’aun. Bahkan Rasulullah ﷺ sendiri dituduh gila, tukang sihir, dan pemecah belah masyarakat. Tetapi sejarah membuktikan: kebenaran selalu menang, meski terkadang ia harus berjalan melalui jalan yang panjang dan terjal.
Maka, ketika seseorang dizalimi oleh sistem atau individu yang berpura-pura menjadi korban, sesungguhnya ia sedang berjalan di jejak para pejuang kebenaran terdahulu. Langit boleh berguncang, bumi boleh bergetar, tapi keadilan Allah tak pernah hilang dari pandangan-Nya.
Bahaya Sandiwara Korban Palsu
Modus playing the victim tidak hanya merugikan individu yang dituduh secara tidak adil, tetapi juga menciptakan efek domino sosial. Masyarakat menjadi bingung membedakan mana korban sejati dan mana pelaku manipulatif. Ketika terlalu banyak sandiwara, simpati publik kehilangan arah, dan akhirnya kepekaan sosial terhadap penderitaan yang benar-benar nyata pun tumpul.
Lebih jauh, dalam dunia hukum, kebohongan yang disusun rapi bisa menyesatkan penyidik dan jaksa. Saksi palsu, atau saksi yang menyamar seakan-akan dia seorang pakar hukum yang nekad memaksukan gelar tertinggi dibidangnya “Professor”, adalah kepalsuan nyata, sehingga opini media dapat membentuk “kebenaran semu” yang menutupi hakikat sebenarnya. Ini bukan hanya pelanggaran etik, tapi dosa moral besar. Sebab, setiap fitnah yang diucapkan untuk menzalimi orang lain akan menjadi bara api di akhirat kelak.
Allah memperingatkan dalam Al-Qur’an:
“Dan janganlah kamu campuradukkan yang benar dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 42)
Ayat ini adalah panggilan bagi setiap orang yang terlibat dalam proses hukum, media, dan opini publik — agar tidak menjadi bagian dari kebohongan kolektif yang merusak sendi keadilan bangsa.
Menegakkan Kebenaran Walaupun Langit Akan Runtuh.
Menegakkan kebenaran bukanlah jalan mudah. Ia penuh duri, cibiran, dan kesepian. Namun jalan inilah yang membuat seseorang mulia di sisi Allah. Di dunia, mungkin ia dihukum; tapi di sisi Tuhan, ia dimuliakan. Sebaliknya, mereka yang menggunakan hukum untuk menindas, yang memanipulasi fakta untuk meraih simpati, akan menuai azab yang lebih berat daripada sekadar hukuman dunia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku pada hari kiamat adalah orang yang banyak bicara dusta, yang berlagak dan bertele-tele dalam perkataan.”
(HR. Tirmidzi)
Kebenaran memang bisa ditunda, tapi tidak bisa dibungkam selamanya. Ia akan muncul kembali, seolah memecah lapisan langit yang menutupinya. Sejarah selalu berpihak pada yang benar, bukan pada yang kuat.
Keadilan Sebagai Amal Ibadah
Dalam pandangan Islam, menegakkan keadilan bukan hanya tugas hukum, tetapi ibadah. Setiap langkah menuju kebenaran adalah bentuk dzikir sosial — mengingat Allah dalam tindakan nyata. Maka, siapa pun yang berjuang melawan kriminalisasi, siapa pun yang menolak manipulasi dan fitnah, sejatinya sedang melakukan amal saleh yang nilainya lebih tinggi dari sekadar ibadah ritual.
Bila seseorang difitnah dan dizalimi, janganlah ia membalas dengan kebencian, tetapi dengan keteguhan iman. Karena setiap air mata orang yang terzalimi akan diangkat sebagai doa yang mustajab. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Takutlah terhadap doa orang yang terzalimi, karena antara dia dan Allah tidak ada penghalang.” (HR. Bukhari)












